Sabtu, 12 April 2014

cerpenku 7

Bad Day
( 4 - 4 - 14)
“08.17.”
“AAARRRGGH!!! Aku telat!!!” teriakku keras saat melihat jam di handphoneku.
Teriak-teriak gak jelas sambil memakai baju, mulutku terus mengoceh kesal. Dan kali ini aku ke kampus dengan penampilan apa adanya dan acak-acakan. Aku takut telat karena tidak akan diijinkan si dosen masuk ruangan. Dengan cepat asal saja aku masukkan buku-buku ke dalam tas. Tidak lupa aku memasukkan handphoneku juga.
Saat sedang mengunci pintu, tiba-tiba ada yang meneleponku. Aku heran mengapa jam-jam segini ada yang meneleponku. Tangan kananku sedang berusaha mengunci pintu sembari membantu handphoneku menempel ke telingaku. “Halo, halo… halo bang?” tanyaku pada seseorang dibalik telepon itu. Saking terburu-burunya, handphoneku pun terjatuh. Praaaakkkk. Dan sambungan telepon itu juga terputus. Tuttt. Tuttt. Tuttt.
“Oh my god” ucapku kesal.
Saat mengambil handphone yang jatuh, aku melihat kancing bajuku masih terbuka. Untung saja aku pake tengtop jadi tidak kelihatan isi didalamnya. Lalu aku dengan cepat mangancingkannya.  “Ya Tuhan kenapa aku kacau sekali hari ini” teriakku kesal dalam hati.
Kemudian dengan langkah terburu-buru aku menuju kampus. Aku menelepon seorang teman untuk menanyakan si dosen sudah masuk atau belum.
“Titt. Titt. Halo?”
“Hah, halo. Udah datang bapak itu?”
“Belum. Cepatkan kaulah.”
“Oke, oke.”
Lalu kututup pembicaraan singkat itu dengan segera.
Dan untuk kesekian kalinya aku harus naik becak. Aku paling tidak suka naik becak, tapi apa daya daripada aku telat, ya kan?
Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di kampus. Dengan setengah berlari aku menuju ruangan. Entah kenapa mahasiswa lain melihatiku. Mereka bisik-bisik, bahkan ada yang tersenyum dan tertawa juga. What’s wrong with me? I don’t know. Whatever-lah.
Hari ini kami ada kuis, so wajar kalau teman-temanku sudah duduk manis di kursinya sambil membaca buku. Dengan langkah siput, aku menanyakan temanku dari luar ruangan untuk memastikan si dosen sudah masuk atau belum. And I so lucky, si dosen belum datang. Dengan cepat aku masuk, tapi teman-teman menertawaiku. Saat itu rebut sekali.
“Yang baru bangunnya kau, Ndah? Berantakan kali rambutmu” sambut seorang temanku cowok sambil tersenyum geli.
“Hehehe, iya. Gak sempat tadi nyisir rambut” jawabku cengengesan.
Udah terburu-buru dari kos, ehh ternyata si dosen lupa kalau hari ini ada kuis. Tapi gak apa-apa. Paling tidak pikiranku sedikit ringan. Hari itu lama sekali waktu berputar. Satu jam saja terasa seperti satu windu. Mata bengkak, penampilan berantakan serta muka pucat karena kurang tidur.



Jam sepuluh lewat aku  sudah sampai di kos.
Kumanjakan tubuhku diatas kasur empukku hingga terlelap ke alam sadar. Aku ingin membalas tidurku yang kurang tadi subuh. Dalam sekejab aku terbangun karena aku merasa ada yang membebani pikiranku. Yupp! Tugas kuliah dan tugas peka’elku belum selesai ternyata. “Mampus aku.” Dengan cepat kukeluarkan notebookku dari lemari yang berada tepat didepan kasurku. Mulai menjelajahi mbah google untuk mencari jawabannya, tapi gak dapat-dapat juga. Disisi lain pikiranku lari ke pemira fakultas yang akan diadakan akhir bulan ini. Organisasiku akan melakukan koalisasi dengan organisasi lain. Dan kami akan mengadakan pertemuan malam ini di kosku.
Aku mendapat telepon kalau nanti sore ada bedah buku di sebuah cafe. Aku diminta untuk mengumpulkan massa menghadiri acara yang diadakan caleg itu. Yaa…katanya sih tahun ini tahunnya politik. So, wajar dong kalau banyak kegiatan yang dilakukan caleg atau pun parpol untuk mencari simpati masyarakat.
Acaranya cukup menarik, tapi menariknya karena aku yang lapar bisa dengan seenaknya menyantap makanan yang disediakan oleh pihak cafe. Menunya simpel seperti kacang rebus, goreng pisang, ubi goreng dengan pilihan minuman teh manis dan kopi. Belum lagi ditengah-tengah acara, kedua teman pengurusku adu mulut. Capcus deh.
Jumat ini cuaca tidak mendukung. Kadang gerimis, bahkan hujan. Karena cuaca ini pertemuan kami terpending sampai jam sepuluh kurang. Banyak hal yang kami bahas dengan pihak koalisi. Hingga jam dua belas malam lewat aktivitas organisasiku terhenti.
Akhirnya kuberikan kesempatan untuk tubuhku menikmati masa-masa indahnya dengan terlelap dalam mimpi.
Flashback penyebab aku telat.
“05.00.”
Alarm handphoneku berbunyi. Aku sengaja menyetel alarm biar bisa bangun cepat. Mataku tidak ingin melihat dunia, ia masih ingin dalam kegelapan subuh itu. Mau atau tidak aku memaksakan mataku terbuka. Aku menelepon si do’i. Ternyata ia belum ada tidur semalaman. Kami hanya sebentar saja mengobrol karena gratisan telepon sudah habis. Membaca buku subuh itu tidak lantas diterima dengan cepat oleh otakku. Sepertinya otakku masih tidur. Lalu kubaringkan lagi tubuhku di kasur sambil memeluk bantal guling. Dan aku pun tertidur.
“06.43.”
Aku terbangun. Sebenarnya selama hampir dua jam itu aku sesekali bangun untuk mengecek jam. Aku pun mandi dan menyegarkan tubuhku. Airnya dingin sekali. Tubuhku menggigil. Selesai itu, aku baringkan tubuhku kembali sembari menunggu jam delapan, tapi? Aku pun tertidur pulas hingga akhirnya terlambat bangun.

-  The End  -

Selasa, 08 April 2014

cerpenku 6

Aku Dan Pikiranku
Aku tak tau apa yang sedang menggerogoti pikiran dan juga perasaanku saat ini. Sudah dua hari ini mood ku selalu buruk. Entahlah! Aku bingung dengan diriku sendiri. Aku yang punya diriku, tapi bisa-bisanya pula aku yang tidak tau apa yang terjadi denganku.
“AAARRRGGH!!!”
Teriakku geram.
Aku selalu berusaha mencari dan mencari.
Online? Malas. Ngerjain tugas? Lagi bad mood. Nonton tv? Bosan. Tiduran? Takut tidur beneran. “Omaigot, help mi plisss?” gerutuku dalam hati.
Kucoba untuk mencari aktivitas lain, misalnya nonton video india. Yaa… sedikit terhiburlah. Lalu kulanjut online. Beberapa saat kemudian, aku memilih ke hobiku menulis dan menuangkan isi hatiku kedalamnya.
(((**)) (((**)) (((**))
Bila kuambil kesimpulan, sepertinya pikiranku sedang mengelabui diriku dengan pikiran-pikiran takut dan gelisah. Yes, maybe. Mulai dari tugas yang menumpuk, organisasi, hubungan dengan si do’i hingga kekhawatiranku mengahadapi ujian mid yang sudah didepan mata. Pantas saja! Ternyata ini yang menggangguku.
“HAHH!!!” desahku bersamaan memeluk erat bantal guling yang selalu menemani tidurku.
Entah mengapa kasur coklatku pun sepertinya tidak bisa memberiku kenyamanan saat berbaring diatasnya. Apa ia juga merasakan seperti yang kurasakan sekarang?
“Entahlah.”
Selasa, 1 april 2014
Tidak ada program menambah panjang waktu istirahatku. Pulang lebih awal dari kampus menuju kos. Tidak banyak kegiatanku tapi lelah sekali kurasa tubuh ini. Seolah-olah membawa beban ribuan kilo.
Siang hingga petang aku diam didepan netbookku tanpa melakukan apa-apa dan hanya memandangi wall facebookku.
“1,5 liter sprite udah abis kuminum ditambah lagi dengan 5 album lagu udah kudengar, tapi cerpenku toh juga belum kelar-kelar. Aissshh! Imbuhku kesal.
Bersiap-siap mandi karena aku ada pertemuan dengan pihak gereja mengenai program organisasi. Dengan memakai kaos berwarna pink dipadu dengan celana jeans coklat muda serta disempurnakan jaket pink bergaya ala korea. Aku merasa penampilanku malam itu, so perfect and cool. Hehehe. Sepanjang perjalananku menuju tempat jual pulsa, semua mata tertuju padaku. Apa karna penampilanku aneh? I don’t think so. Atau karena aku menawan? Oops, I hope. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan-tatapan tajam mata para lelaki itu.
Tersirat di benakku untuk mengajaknya jalan malam ini. Dan syukurlah ia mau. Awalnya menarik cerita dengannya karena sudah lama tidak bertemu, tapi akhirnya pasti selalu sad ending. Why? Susah buatku membaca pikiran ataupun dirinya. Aku selalu kalah argument dengannya, dan ngomong dengannya penuh dengan lika-liku alias berbelit-belit. Aku senang berbincang-bincang dengannya, namun entah kenapa ia selalu mengubah moodku. Tidak pernah ia membuatku senang. Sekali pun tidak. Tadinya aku lega bisa terhibur, but??? He made tonight I was disappointed again. Dan aku harap ia tidak membaca cerpenku ini. Hehehe.
(((**)) (((**)) (((**))
Menempuh jalan puluhan kilometer merusak sepatu yang baru kubeli kira-kira tiga minggu yang lalu. Harganya memang murah sih, tapi dalam sejarah hidupku aku belum pernah jalan kaki hingga merusak sepatuku. Sepertinya aku harus beli sepatu baru lagi.

SINGLE? ENJOY AJA. DARIPADA YANG PUNYA PACAR GALAU TERUS.

That’s right.
“Aku setuju deh sama kamu.” Statement seorang model cantik disebuah iklan coklat terenak.
Menurut aku pacar itu tidak ada gunanya kalau tidak bisa diandalkan.
Yupp !
Contohnya kayak aku lagi butuh si do’i untuk menghibur aku yang sedang galau dan dirundung risau badai cetar membahana khatulistiwa. Eeh, kok malah syaroni, oops syahrini. (Hehehe) Si do'i tidak bisa, malah ia bilang ia tidak mau diganggu. That’s so funny, right? Okelah.
Pengen rasanya kubuang perasaan yang menggangguku ini jauh-jauh, but I can’t. Namun sebenarnya aku tau cara membuatku semangat dan ceria seperti dulu kala, yaitu dengan cara positive thinking. Yeah… positive thinking, Ndah.
-    The end -

Rabu, 02 April 2014

cerpenku 5

Musuhku, Tetanggaku

“Ngapain lo dibawah kolong meja gue.” Terdengar suara cowok  yang sudah familiar ditelinganya.
Saking terkejutnya, kepala Mia terantuk sisi meja. “Aauuuww!” Rintihnya kesakitan sambil mengelus-elus kepala. Cowok berpostur tinggi dan berkulit sawo matang ini tersenyum sinis melihatnya terantuk.
“Gue lagi nyari mainan kalung gue. Tadi jatuh disini. Itu hadiah dari sahabat gue.”
“Emang gue ada nanya itu hadiah dari siapa, hmm?” Tanyanya jutek.
Mia kesal mendengarnya. Bibirnya manyun. Mia mencuekinya dan terus mencari kalung mainannya hingga akhirnya dapat, tapi mainan kalungnya itu terinjak oleh Kira.
“Bisa gak kaki kanan lo itu lo angkat, kalung mainan gue lo injak.” Gerutu Mia pada Kira.
Kira melihat kebawah, lalu dengan segera mengangkat kakinya.”Oh. Ternyata ini yang lo cari-cari.”
Mainan kalung Mia yang berbentuk setengah hati itu rusak karna terinjak Kira. Hadiah dari sahabatnya itu slalu dijaga Mia baik-baik, tapi karna terinjak sama Kira, Mia murka. Mia berdiri lalu melototi mata Kira dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun.
“Lo kenapa? Kok ngeliatin gue kayak gitu?” tanya Kira heran sambil meletakkan tasnya.
“Lo liat ini!” kata Mia dengan nada marah sambil menunjukkan mainan kalung yang rusak itu pada Kira.
Kira melihat kalung mainan itu, lalu dengan juteknya dia menjawab,”oh. udah rusak.”
“APA????” teriak Mia.
Tang.ting.tang.ting.tung. Adu mulut pun tak terelakkan. Mia dan Kira berantem lagi. Mereka memang gak pernah akur, bahkan berkali-kali mereka keluar masuk ruangan BP karna hampir setiap hari ribut. Teman-teman dan guru mereka sudah berusaha mendekatkan mereka dengan cara memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sama, tapi mereka tetap saja slalu berantem. Mia dan Kira satu kelas dan mereka slalu bersaing mendapatkan juara kelas. mia dan Kira termasuk siswa yang pintar dikelasnya. Mereka ini ibaratkan layar tancap bagi teman-temannya karna menarik buat ditonton kalo lagi berantem. Katanya sih lucu kalo mereka berantem.
***
Tett. Tett. Bel masuk berbunyi. Semua siswa memasuki kelasnya masing-masing. Pagi itu Kira terlambat, pada hal gurunya sudah mulai mengajar.
Tokk. Tokk. Terdengar suara pintu diketuk. Kira berdiri dengan pakaian lusuh dipenuhi keringat dengan napas terengah-engah. Semua siswa melihat ke arahnya termasuk Mia.
“Kenapa kamu terlambat Ra?” tanya si guru.
“Maaf bu... tadi saya bangun kesiangan... Semalam...keluarga saya baru pindah rumah... jadi saya bantu papa mama pindahan.” Jawab Kira terputus-putus berusaha untuk mengambil napas.
“Pindahan?? Semalam tetangga gue ada yang pindahan juga. Kok kebetulan sama ya? Atau jangan-jangan?? Aah gak mungkin!” kata Mia dalam hati.
“Oh ya sudah. Masuk. Lain kali jangan ulangi.” Ucap si guru lembut.
Kira masuk ke dalam kelas, saat melewati meja Mia, Kira mengejeknya dengan mengulurkan lidah sambil mencipitkan mata. Mia yang melihatnya kesal. Pelajaran yang terhenti itu kembali dilanjutkan. Selama pelajaran berlangsung Mia gak bisa konsen karna dia masih sibuk dengan pikirannya mengenai tetangga barunya yang baru pindah semalam. “Kenapa pindahnya Kira sama dengan tetanggaku yaa?? Atau jangan-jangan?? Aah mungkin aja itu hanya kebetulan.” Kata Mia dalam hati berusaha menghibur dirinya.
***
HADIRILAH!
BIRTHDAY PARTY GUE 17th.
BESOK JAM 7 MALAM.
DI PERUMAHAN ASRI INDAH NO. 27 B.
By : Kira Anggara J
Sebuah undangan yang di tempel di mading sekolah dekat koridor.

Bola mata Mia mau copot saat membaca surat undangan itu. “OMG. Ternyata dia tetangga baru gue?” kata Mia dalam hati dengan langkah lunglai. Ternyata tetangga barunya Mia adalah Kira, musuh bebuyutannya dari SMP hingga sekarang. Mia benci banget sama Kira. BANGET! Oke, kita flashback penyebab Mia benci sama Kira saat mereka kelas 2 SMP. Saat itu jam istirahat, Mia bersama teman-temannya tengah asyik nongkrong di taman sekolah yang jaraknya tidak jauh dari lapangan bola. Kira yang asyik bermain bola dengan teman-teman cowoknya tanpa sengaja dengan keras menendang bola itu ke arah Mia hingga mengenai kening Mia dan berdarah. Semua geger saat itu. Mia pingsan. Guru langsung membawa Mia ke rumah sakit dan Mia sempat diopname selama 3 hari di rumah sakit karna mengalami pendarahan dan mendapat puluhan jahitan di keningnya. Yang buat Mia semakin benci sama Kira karna sejak kejadian itu hingga sekarang Kira gak pernah minta maaf dan malah cuek saat bertemu dengan Mia di sekolah, pada hal orang tua Kira sudah minta maaf sama Mia dan juga keluarganya. Karna kejadian itu, Mia punya bekas luka di keningnya dan tiap kali Mia melihat bekas luka itu, rasa benci Mia pada Kira semakin bertambah dan bertambah.

“Lo kenapa? Muka lo pucat banget. Lo lagi sakit ya?” tanya Tika penasaran.
“Gue gak pa pa Tik.” Sahut Mia santai pada teman dekatnya itu.
“Oh, syukurlah kalo gitu. Oh ya mi, lo tau gak ternyata tetangga baru yang lo bilang itu si Kira, gue
tadi baca di mading, lo udah tau kan tentang ini?” tanya Tika panik dan heboh.
“Iya, gue udah baca.” Ujar Mia jutek.
“Kok ekspresi lo biasa aja?” tanya Tika lagi yang pengen tau apa yang terjadi sama teman semejanya itu.
“Trus gue harus bilang wow gitu. Atau gue harus lari-lari manjat pohon trus bilang pucuk, pucuk,
pucuk.” Jawab Mia yang mulai kesal.
“Ya gak segitunya juga kali. Gue kan cuma heran aja sama ekspresi lo yang biasa aja. Biasanya kan lo itu heboh, panik, pokoknya wow gitu kalo menyangkut tentang Kira dan bla bla bla.....” Ceplos Tika tanpa henti dengan tingkah centil mentilnya.
Dengan tajam mata Mia melototi Tika. Tika yang sadar dengan tatapan sinis Mia langsung terdiam dan
tersenyum kayak orang bego. Suasana hati Mia hari itu berantakan banget, emosian dan gak bersahabat. Ditambah lagi saat Mia melihat Kira yang hari itu kelihatan happy buanget.
Kira melihat Mia sedang mencorat coret di bukunya dengan muka cemberut, Kira menghampirinya lalu meletakkan sebuah undangan di mejanya.
“Besok lo datang ya ke birthday party gue. Ini undangan spesial gue kasih langsung ke lo.” Tutur Kira lembut sambil tersenyum kecil pada Mia.
Mia yang sedang kacau balau moodnya mencueki Kira lalu pergi meninggalkan Kira yang berdiri tepat di samping mejanya. Karna jarak antar meja dekat, Mia menabrak badan Kira cukup keras hingga membuat Kira hampir terjatuh. Kira hanya diam saja melihat tingkah Mia yang super cuek padanya.”Ternyata cewek ini kuat juga ya tenaganya. hahaha.” Kata Kira dalam hati sambil melihat kepergian Mia.
Birthday partynya Kira yang ke tujuh belas alias sweet seventeen ini dimeriahkan oleh band lokal dan rame banget. Acaranya di konsep di dekat kolam renang dengan desain lilin warna-warni menghiasi pinggir kolam dan liontin memperindah langit malam itu.  Kira yang mengenakan jas hitam tampak kelihatan tampan dan memukau. Semua cewek terkesima melihat penampilannya. Tapi mata Kira sibuk melihati para undangan seakan lagi nyari seseorang, namun seseorang yang diharapkannya itu tak muncul-muncul juga. Kira terlihat kecewa. Lalu acaranya dimulai dari bernyanyi hingga memotong kue. Pada saat itu ada makhluk cantik yang nyuri perhatian undangan di acara ultahnya Kira, tubuhnya mungil, putih mulus dan rambut lurus panjang. Makhluk cantik itu adalah Gramia Paterson alias Mia alias musuh bebuyutannya Kira. Saat melihatnya datang, ekspresi Kira berubah sumringah, ternyata seseorang yang ditunggu-tunggunya itu adalah Mia. Tapi penampilan Mia malam itu sedikit lain dari biasanya, Mia yang selama ini kelihatan cuek dan tak pernah berpenampilan feminim tiba-tiba berubah drastis di acara ultahnya Kira, bahkan mulut Kira menganga dan matanya melotot tidak percaya melihat Mia bisa secantik bak bidadari.
Sebenarnya Mia tidak mau datang, tapi karna dipaksa sama Tika sampe pake jurus air mata buayanya, akhirnya Mia luluh juga. Mia memang tidak tahu berdandan seperti cewek pada umumnya, Tikalah yang menyulap Mia jadi bidadari malam itu. Semua tamu undangan yang merupakan teman satu sekolah mereka tak menyangka Mia bakalan datang karna mereka pasang taruhan abis-abisan karna yakin kalo Mia tidak akan berani datang, but the their guess is wrong, Mia malah datang. Mereka yang kalah taruhan rugi besar karna kehadiran Mia di acara ultahnya Kira.
Saat season dance, Kira menghampiri Mia dan mengajaknya berdansa, Mia tidak tega menolak karna malam ini malam spesial buat Kira, dengan terpaksa Mia berdansa dengan Kira. Mereka bak tokoh cerita dalam dongeng cinderella. SO ROMANTIC. Semua cewek cemburu kecuali Tika karna cuma Mia cewek yang diajak Kira berdansa. Tika sengaja mengajak sang pacar ke acara ultahnya Kira biar ada yang menemaninya pulang. Kira cukup lihai berdansa hingga sesekali Mia hampir terjatuh karna high heels yang dipakenya mengurangi gerak-geriknya, namun Kira bisa menjaga keseimbangan Mia. Pertama dalam sejarah Mia dan Kira, mereka bisa seakur dan seakrab ini tanpa ada berantem.
Tiba-tiba Kira mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
“Nih.” Kata Kira sambil meletakkan sesuatu itu di tangan kanan Mia. Lalu Mia melihatnya dan mukanya berubah senang. Kira ternyata mengganti kalung mainan setengah hati yang tidak sengaja diinjaknya itu hingga rusak. Kira tau mainan kalung itu sangat berharga bagi Mia karna itu pemberian dari sahabatnya Mia yang sudah meninggal akibat kanker darah tahun lalu.
“Dari mana lo dapat mainan kalung ini, Eria bilang mainan kalung ini cuma ada satu dan lo udah ngerusaknya.” Tutur Mia dengan nada lirih karna teringat sama sahabatnya yang telah tiada, Eria Kahardiani.
“Sahabat lo bilang memang benar, cuma ini satu-satunya mainan kalung setengah hati yang ada di dunia ini karna sahabat lo khusus memesannya dari  Jerman. Ini diukir langsung oleh seniman terkenal di sana........” saat tengah asyik menjelaskan, Mia menutup mulut Kira dengan jari telunjuk tangannya.
“Jangan bilang kalo lo mesan ini langsung dari Jerman.” kata Mia setengah tak percaya dengan apa yang dibilang Kira padanya.
“Hari itu juga aku langsung nyari mainan kalung ini di tokoh-tokoh, mall, bahkan sampe aku searching di internet tapi gak dapat-dapat juga. Gue tau ini diukir dari Jerman karna bokap gue kenal dekat sama orang yg ngukir mainan kalung ini karna ada inisial nama si pengukir dibalik mainan kalung itu. Gue tau ini barang berharga buat lo makanya gue berusaha untuk ngegantiinnya. Maaf ya atas tingkah gue slama ini sama lo terutama kejadian waktu kita kelas 2 SMP kemarin, gue minta maaf banget. Gue mau kita berteman. Lo mau kan jadi teman gue?” mohon Kira sambil berlutut dihadapan Mia.
Tiba-tiba suasana yang meriah berubah jadi haru. Semua undangan menyaksikan tontonan gratis ini, tapi bukan tontonan adu mulut seperti biasanya melainkan tontonan yang romantis tapi mengharukan juga. Mia melihat Kira yang berlutut di depannya lalu berkata,”Fine, gue mau kok berteman sama lo asal lo gak nendang kening gue lagi pake bola.” Kira lalu berdiri lalu mengulurkan jari kelingking kanannya dan berkata, ”JANJI”. Mia tersenyum lalu menyambut jari kelingking kanan Kira dengan jari kelingking kanannya sambil berkata,”ku pegang janjimu”. Saking senangnya, tanpa sadar Kira mencium bekas lukanya Mia di kening lalu memeluk Mia. Semua undangan terharu dan bertepuk tangan karna akhirnya Mia dan Kira bisa berdamai.
***
Setelah acara ultahnya Kira berlalu, tidak ada lagi tontonan gratis di kelas, tidak ada lagi adu mulut, tidak ada dendam and everything is full of peace. Mia dan Kira berteman akrab. Kabar baiknya mereka lulus masuk universitas negeri yang sama dengan jurusan berbeda, dan kabar bahagianya mereka pacaran loh. Hahaha. Nice story. J


= THE END =

Sabtu, 29 Maret 2014

cerpenku 4

Aku, Kamu & Dia
Oleh Indah Simanjuntak
“Lo, gue, end!” teriakku di birthday party Lena sahabatku. Aku mengacaukan acara ultahnya karna kuputuskan hubunganku yang sudah 4 tahun kujalani dengan Diko. Aku ngga tahan lagi dengan semua kebohongan Diko dan Lena yang selama ini disembunyikan dariku. Ternyata diam-diam Diko ingin memutuskanku di acara birthday partynya Lena. Aku tau hal ini karna Rasya yang memberitahuku. Aku ngga bisa bayangkan dimana perasaan Lena saat selingkuh dengan pacar sahabatnya sendiri. Malam itu jadi malam kelam buatku. Aku putus dengan Diko karna dia selingkuh sama sahabatku sendiri. Hatiku tercabik-cabik. Bahkan disaat aku memutuskan Diko, disaat itu pula Diko meresmikan hubungannya dengan Lena. Secara spontan aku menampar Diko di depan banyak undangan yang merupakan teman sekolah kami. Plaaakkkkkk! Tamparanku tak sebanding dengan rasa sakit yang mereka goreskan dihatiku. “Sakit! Sakit banget!” teriakku dalam hati.
            Setelah malam itu, aku ngga semeja lagi dengan Lena. Lena pindah ke belakang bertukar posisi dengan Rasya. Lena tidak pernah minta maaf padaku, bahkan dia mencuekiku di kelas. Hatiku semakin tercabik-cabik saat aku melihat Lena dan Diko makan bareng di kantin, pulang pergi sekolah selalu sama dan bahkan mereka tak segan-segan bermesraan di hadapanku. Mereka tidak peduli dengan perasaanku. “Help me God please” bisikku dalam hati. Teman-temanku sangat simpati padaku. Mereka menyebut Lena dan Diko sebagai pengkhianat, tapi aku tidak pernah membenci mereka karna aku sudah memaafkan kesalahan mereka. Aku berharap ini sakit hati yang pertama dan terakhir untukku.
            Saat mencari buku paket akutansi di rak bukuku, tidak sengaja 2 foto jatuh dari dalamnya. Foto saat aku dan Diko sedang berlibur di Borobudur. Diko memelukku sangat mesra saat itu. Lalu foto berikutnya saat aku berulang tahun. Diko mencium keningku di hadapan kedua orang tuaku dan juga teman-temanku. Tiba-tiba aku teringat lagi dengan semua kenanganku dengan Diko. Aku pun termenung mengingat semua memori indah itu. Tanpa kusadari ada yang jatuh dari pelupuk mataku. Aku sadar itu semua tinggal kenangan. Kemudian kulihati di sekitar kamarku. Di setiap sudut kamarku ada bayangan Diko. Sulit bagiku  melupakan Diko karna hampir tiap hari aku melihat bayangannya di kamarku. Lalu kumasukkan semua barang-barang yang pernah Diko kasih untukku dalam sebuah kardus kecil. Mulai dari bunga mawar, fotoku dengan Diko, boneka, lampu hias, jam tangan dan surat-surat cinta dari Diko. Supaya aku benar-benar bisa melupakannya, aku pun pindah ke kamar kakakku yang saat ini sedang mengambil S2 di luar negeri.
            Waktu terus berputar dan tanpa terasa hari ini adalah pengumuman kelulusan SMA senasional. Rasya menjemputku dari rumah untuk melihat pengumuman. Setibanya di sekolah, teman-teman pada sibuk memadati mading sekolah yang letaknya ada di koridor. Semua berdesak-desakan ingin melihat namanya di papan kelulusan. Sejauh ini aku tidak melihat teman-temanku ada yang pingsan atau pun menangis sedih karna tidak lulus. Mereka semua terlihat begitu senang, ada yang teriak, tertawa, lari-lari, melompat kegirangan, menangis bahkan saking senangnya ada temanku yang menyalami orang-orang yang saat itu tengah lewat di depan sekolah. Aku tertawa melihat ekspresi mereka. Saat mading mulai sepi, giliranku melihatnya. Hari itu mulai sore. Telunjuk tangan kananku mulai menelusuri kertas demi kertas untuk mencari namaku. Tanganku berhenti saat mataku membaca nama yang kucari-cari.
No.
NIS
Nama
Keterangan
121
18490 
Andrea Zahara
LULUS
“Yes! Gue lulus” teriakku dalam hati. Aku senang akhirnya aku lulus SMA. Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak saat tanpa sengaja aku melihat Lena memeluk Diko. Ternyata mereka ada di sampingku melihat pengumuman kelulusan juga. Jantungku rasanya mau lepas dari tubuh ini. Aku senang mereka lulus, tapi seharusnya mereka tidak berpelukan di hadapanku. Emosiku mulai naik, entah kenapa pengen rasanya aku berteriak marah pada mereka, tapi karna ini hari terakhir kami bertemu, kuurungkan niatku memarahi mereka. Aku pun mengajak Rasya pulang.
3 tahun 2 bulan kemudian......
Karna gagal masuk perguruan tinggi, akhirnya aku kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jogja. Aku memilih jurusan hubungan internasional karna aku bercita-cita ingin berkelana di negeri orang. Aku sibuk dengan kuliahku hingga aku akhirnya dapat melupakan Diko.
Saat ini aku lagi dekat dengan seniorku. Usia kami sama, hanya saja diusia 4 tahun dia sudah mulai sekolah. Dia sangat baik dan perhatian padaku. Malam ini dia mengajakku nonton bioskop. Kebetulan malam ini launching pemutaran perdana film Breaking Down 2. Aku bingung memakai baju apa malam ini. Entah kenapa aku pengen tampil cantik dihadapannya. Berjam-jam aku membongkar lemari bajuku untuk mencari baju yang cocok buatku. Akhirnya kutemukan juga baju yang pas buat nonton malam ini. Dress hijau polos pilihanku. Aku ingat kalo dress ini pernah aku pake saat Diko menembakku. Tiba-tiba aku teringat lagi padanya. “He's just my past. You must move on Rea” kataku berusaha menyemangati diri sendiri. Rambutku kuikat ala ekor kuda dengan poni menyamping ke kiri. Sebelum aku pergi, aku berkaca untuk memastikan tidak ada yang kurang. “Penampilanku polos banget ya?” pikirku dalam hati. Aku termenung di depan cermin. “Lo udah cantik kok Re. Cantik banget malah” puji Sarah satu kostku. “Lo udah ditungguin tuh sama Manda dari tadi” kata Sarah. Aku kaget ternyata Manda sudah lama menungguku. “Oke. Thanks ya Rah” .
***
“Filmnya bagus banget ya” kataku memecahkan keheningan. Setelah nonton bioskop, aku dan Manda makan di cafe yang tak jauh dari bioskop. “O..oh..ii...iya!” kata Manda terbata-bata. Tingkahnya aneh sekali. Dia kelihatan gugup.
“Lo kenapa?”
“Hah? A...e...gu..gue ngga pa pa kok”.
“Mmm”.
“Rea”.
“Iya?”
Mmm… Lo mau ngga jadi pacar gue?”.
Puurrrrr! Saking shocknya tanpa sengaja aku meyemprotkan minuman dari mulutku  ke wajah Manda. Manda pun terkejut. Dengan cepat kuambil tisu lalu membersihkan wajahnya. Aku membersihkan wajahnya sambil meminta maaf berulang kali. Tiba-tiba Manda memegang tanganku. Jarak wajah kami sangat dekat. Dekat sekali. Bahkan boleh dibilang kami hampir saja berciuman. Tatapannya begitu tajam. Aku merasa ada yang aneh pada diriku saat itu. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali. Terakhir kalinya aku seperti ini saat Diko menciumku di pesta ultahku 3 tahun lalu. Cukup lama kami saling berpandangan saat itu.
“Udah lama gue simpan rasa ini Re. Gue sayang lo. Lo mau ngga jadi pacar gue?” kata Manda sambil menatap mataku tanpa berkedip sedikit pun. Aku gugup. Kuakui selama ini Mandalah yang mengisi hari-hariku hingga sedikit demi sedikit aku bisa melupakan Diko. Jantungku berdetak tiga kali lebih kencang. Bola mataku ngga tau lagi kemana arahnya karna hanya Manda yang ada dihadapanku. Langit malam itu dibanjiri bintang dan galaksi lainnya. Udara semakin dingin kurasa karna dress yang kupake berbahan tipis dan berlengan pendek. Tubuhku serasa ditusuk-tusuk angin malam. Saat aku menjawab “gue mau kok jadi pacar lo”, dari mulutku keluar asap karna dinginnya malam itu. Spontan saja Manda langsung memelukku. Hangat kurasa dalam pelukannya. Belum pernah aku merasakan kehangatan senyaman ini. Tapi badanku sedikit gemetar. Manda tau kalo aku kedinginan, lalu dia membuka jaketnya dan memasangkannya ditubuhku. Dia memelukku kembali. Aku mendengar suara angin bernyanyi merdu malam itu dan bintang-bintang di langit memancarkan sinar terbaiknya. Kulihat bulan tersipu malu bersembunyi di balik awan. Mereka seakan-akan dapat merasakan apa yang kurasakan.
***
            Akhirnya aku bisa menggantikan Diko dihatiku. Manda mulai mengisi kenangan demi kenangan di memoriku. Manda selalu mengantar jemput aku dari kos. Jalan, makan, nonton bahkan sampai mengerjakan tugas pun kami lakukan bersama. Kami banyak menghabiskan waktu di perpustakaan karna hobi kami sama-sama membaca. Saat pulang dari perpustakaan, Manda mengajakku ke rumahnya. Katanya sepupunya dari Jakarta datang dan sedang menunggunya di rumah. Karna jalan pulang searah dengan rumah Manda, jadi mau tidak mau aku harus ikut dia ke rumahnya.
Rumahnya bak istana dalam cerita dongeng. Besar sekali. Tamannya luas dikelilingi bunga-bunga dan pepohonan. Ada lapangan golf, badminton dan futsal juga. Indah sekali. Aku tidak menyangka kalau ternyata Manda anak konglomerat pada hal selama ini aku lihat dia biasa-biasa saja. Manda mengaku padaku siapa dia sebenarnya. Manda punya prinsip hidup “find it and never give up, so you'll can get it”. Bahkan motor kawasaki ZX-10R itu adalah hasil dari tabungannya selama ini. Aku salut padanya. Manda juga tidak sombong dan bersahaja pada semua orang. Beda dengan anak muda jaman sekarang yang taunya hanya menghamburkan dan memamerkan harta orang tua.
            Saat memasuki rumahnya, Manda menggandeng tanganku. Aku merasa jadi perempuan yang paling bahagia saat itu. Manda adalah sosok pria impian bagi kaum hawa dan aku bahagia bisa memiliki cintanya. “Aku harap dia cintaku yang terakhir” kataku dalam hati sambil tersenyum. Namun dalam sekejab senyumanku hilang saat aku berpapasan dengan seorang pria di depan pintu rumahnya Manda. Mataku rasanya mau copot. Sesak kurasa. Kueratkan gandengan tangan Manda. Manda bingung lalu menatapku tapi aku tidak menatapnya karna aku hanya berfokus pada pria yang saat ini ada tepat dihadapanku. “Hai Rea” sapa pria itu. Aku hanya terdiam melihatnya. Aku seperti patung. Aliran darahku berhenti bahkan jantungku pun tak berdetak lagi. “Rea, lo kenapa?” tanya Manda lembut sambil memukul pelan pipi kananku. Aku pun tersadar. “A...a...gu...gue ngga pa pa kok” balasku terbata-bata. “Kenapa aku seperti ini ya saat bertemu dengannya lagi” kataku dalam hati.
“Lo kenal sama Rea, Dik?” tanya Manda.
“Iya. Dia teman SMA gue” jawab Manda sambil melihatku. Aku masih terdiam dengan tangan masih menggandeng Manda. “Oh” kata Manda santai. Manda lalu mengajakku dan Diko masuk ke rumah. Selama di rumah Manda aku tidak banyak bicara, aku kaku saat itu. Sesekali kucuri pandang dengan Diko, Diko pun demikian. Mata kami sering bertabrakan. Karna tidak tahan lagi, aku meminta Manda mengantarku pulang dengan alasan kurang enak badan. Memang saat itu wajahku pucat. Tanpa basa basi Manda pun mengantarku pulang. Tatapan Diko tidak berubah dari dulu sampai sekarang padaku, itu yang membuatku tidak tahan lama-lama didekatnya.
***
            Seminggu setelah aku bertemu lagi dengan Diko, perasaanku galau dan risau. Aku tidak tenang selama Diko masih ada disekitarku. Seperti biasa tiap week end aku mengajak Manda ke toko buku tapi kali ini Manda tidak bisa karna harus menemani papanya ke luar kota mengurus perusahaan keluarga. Akhirnya kuputuskan pergi bersama Sarah. Karna sibuk nyari buku, aku dan Sarah terpisah. Saat aku mencari-cari Sarah, tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Bruukkkk! Kertas-kertas dalam mapnya berserakan dimana-mana. Lalu aku membantunya mengumpuli kertas-kertas itu sambil berulang kali meminta maaf. “Ini” kataku sambil memberikan kertas-kertas itu lalu tersenyum padanya. Saat aku melihat orang itu, senyumanku sirna.
“Alena?” kataku kaget. Alena tersenyum padaku. Tanpa ada angin dan hujan, Lena memelukku lalu menangis sejadinya. “Maafin gue Re. Gue nyesel udah ngerebut Diko dari lo. Maafin gue ya” isak tangis Lena. Aku diam seribu bahasa. “Gue udah maafin lo kok Len” kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Lena menatapku. Rasa penyesalan itu terpancar dari matanya. Lalu kuajak Lena minum di cafe yang ada disamping toko buku itu. Niatku untuk mencari Sarah pun batal tapi aku menelepon Sarah untuk memberitahunya kalau aku bersama temanku di cafe sebelah. Lena menceritakan semuanya padaku. Ternyata setelah lulus SMA, Lena dan Diko putus karna Diko selingkuh dengan sahabat dekatnya Lena. Lena mengaku sudah lama mencariku untuk meminta maaf. Aku tidak menyangka Lena mengalami hal yang sama denganku. Ada kalimat Lena yang membuatku terkejut dan jantungku berdetak cepat sekali. “Sebelum kami putus, Diko bilang ke gue kalo dia sangat mencintai lo Re, alasan dia kemarin nembak gue cuma ingin membalas lo karna udah mutusin dia di ultah gue. Menurut gue itu ngga masuk akal, tapi itu nyakitin hati gue banget Re. Diko jadiin gue pacar hanya untuk pelampiasan doang,  gue nyesel Re” curhat Lena sambil menangis. Aku tidak habis pikir kenapa Diko sanggup melakukan itu pada Lena. Aku kasihan pada Lena. Aku memeluknya. Hari itu mulai gelap. Lena yang udah merasa baikan akhirnya kusuruh pulang. Aku dan Sarah pun kembali ke kos.
            Setelah mendengar pengakuan dari Lena, sikapku biasa-biasa saja. Entah kenapa ada didekat Manda membuatku merasa tenang dan damai. Tapi Manda belum tau tentang hubunganku dengan Diko, aku sengaja tidak memberitahunya karna menurutku itu tidaklah penting. Manda saat ini tengah sibuk mengurus kuliahnya karna tahun ini Manda akan wisuda. Intensitas kami bersama pun berkurang. Aku memberikan ruang buat Manda untuk fokus pada skripsinya. Kesendirianku ini pun dimanfaatkan oleh Diko. Aku tidak tau dari mana Diko dapat nomer hp dan alamat kosku. Diko sering menemuiku di kos, bahkan mengajakku jalan. Aku pun bingung kenapa aku mau menerima ajakannya pada hal aku sudah punya Manda yang baik, perhatian dan sayang padaku. Aku merasa mengkhianati cinta Manda. Manda pernah mengajakku menemaninya mencari bahan skripsinya di perpustakaan tapi aku menolaknya dengan alasan mengerjakan tugas bareng teman pada hal saat itu aku lagi jalan dengan Diko. Itu kesekian kalinya aku bohong pada Manda. “Apa ini artinya gue masih sayang sama Diko” pikirku saat sedang duduk di teras kosku.
            Diko pun mulai menjadi-jadi. Hampir tiap hari dia mengajakku. Sedikit demi sedikit aku mulai mencueki Manda. Lalu Lena mengingatkanku pada apa yang pernah Diko lakukan dulu padaku. Sejak kejadian di toko buku itu, aku dan Lena menjadi akrab kembali seperti saat kami SMA dulu. “Lo ngga boleh terus-terusan kayak gini Re. Lo bilang lo punya Manda yang tulus menyayangi lo. Dia butuh lo ada disampingnya buat ngasih dia semangat nyelesain kuliahnya” kata Lena mengingatkanku. Aku sadar aku sudah sering membohonginya. Aku pun menangis. “Ternyata aku juga pengkhianat” kataku dalam hati. Besoknya kuputuskan untuk menemui Manda dan jujur padanya.
            “Gue tunggu di kantin perpus jam 2 J” isi BBMku buat Manda. Sambil menunggu jam 2, aku baca-baca. Tidak terasa jam di kantin menunjukkan jam 2 tepat. Aku melihat Manda dikejauhan sedang mencariku. Aku melambaikan tangan, Manda melihatku lalu menghampiriku. Muka Manda kelihatan lelah dan badannya mulai kurus karna belakangan ini dia sering begadang. Aku memesan orange juice minuman kesukaan Manda. Kuberanikan diri buat jujur padanya karna aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Aku baru sadar ternyata aku sangat mencintai Manda. Dipikiranku saat ini hanya ada Manda, Manda dan Manda. Dengan sedikit kaku kuceritakan semuanya pada Manda. Mulai dari hubunganku dengan Diko, alasanku sering menolak ajakannya serta curhatan isi hatiku padanya. Aku takut Manda memutuskanku karna saat itu Manda kelihatan marah dan kecewa padaku. Manda beranjak dari kursinya lalu berdiri dihadapanku. Perasaan takutku pun mulai menjadi-jadi. Aku pasrah apa pun yang terjadi. Tiba-tiba Manda memelukku. Erat sekali. Lalu berbisik ditelingaku, “Lo tau gue sayang banget sama lo, gue sakit hati saat lo bilang kalo lo sering jalan sama Diko sampe-sampe lo bohong sama gue. Tapi gue hargai kejujuran lo buat ngakuinnya. Makasih. Gue sayang lo sampe kapan pun Re”. Setelah mendengar itu, aku pun bisa bernapas lega dan aku bahagia karna Manda mau nerima kejujuranku. “Makasih. Gue janji ngga akan ngulanginya lagi. Gue sayang lo banget” balasku.
Bunga-bunga cinta diantara kami kembali mekar dengan warna yang jauh lebih indah. Rumput hijau pun menari-nari. Burung-burung di langit bersorak-sorai. Karya Tuhan yang sungguh luar biasa.
Kemarin sore di taman kota...

“Maafin gue Dik, gue ngga bisa nerima cinta lo lagi. Gue sayang banget ama Manda dan gue ngga mau kehilangan dia. Dia kebahagiaan gue. Biarkan gue bahagia bersama Manda. Please?” kataku setelah Diko mengungkapkan perasaannya. Sekian J