Senin, 24 Maret 2014

cerpenku 2

JANJI
oleh : Indah Simanjuntak

Jessicha alias Soe Mei Lan baru saja tiba di Bandara Polonia. Ini pertama kalinya Icha, panggilan akrabnya menginjakkan kaki di Indonesia. Icha yang selama ini tinggal di Tokyo bersama kedua orang tuanya berlibur ke Indonesia untuk menemui kakek dan neneknya. Icha yang baru saja belajar bahasa Indonesia itu sedikit kewalahan berkomunikasi dengan masyarakat pribumi, Icha pun terpaksa memakai bahasa inggris. “Excuse me?” tanya Icha pada seorang pria yang juga baru saja sampai di bandara. “Ya. Ada apa mbak?” jawabnya lembut. “Do you know this address?” tanya Icha lagi sambil memberikan selembar kertas kecil padanya. Pria itu membacanya lalu dengan spontan dia menjawab, “Ya aku tau. Disini aku dilahirkan. Bagaimana kalo kau ikut denganku aja? Alamat ini dekat sama rumahku, hanya jauh dikitlah”. Pria ini memakai bahasa isyarat karna dia tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Icha yang mengerti apa yang dimaksud sama pria ini akhirnya pun ikut bersamanya.
Selama perjalanan Icha menikmati keindahan alam Indonesia yang begitu asri dan indah. Alam yang diselimuti kehijauan dan udara yang begitu segar. 4 jam perjalanan tanpa terasa Icha sudah sampai ditujuan. Kota kecil yang jauh dari kemacetan dan tindak kriminal. Belum ada mall. Masih jauh dari kemajuan. Inilah Kota Perdagangan yang terletak di Kabupaten Simalungun.
Mereka naik becak untuk masuk ke desa ini karna angkot yang mereka naiki berhenti di loket. Pengalaman pertama Icha naik becak. Memasuki jalan yang sudah di aspal, sebelah kanan ada rumah warga dan sebelah kirinya masih ada lahan kosong yang dipenuhi dengan pepohonan.
“Nah, ini rumah yang kau cari mbak” kata pria itu pada Icha. Icha melihat sekitar rumah itu. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Icha takut ditipu sama pria ini. Pria ini juga merasa kalau Icha takut padanya. Akhirnya pria ini turun dari becak dan memanggil si pemilik rumah. “Wak Acong! Wak A....cong!” teriak pria ini dengan sedikit nada bernyanyi. Icha tersenyum melihatnya. “Hayya. Kenapa kau teriak-teriak?” kata seorang pria tua dengan logat Cina saat keluar dari rumahnya. Icha kaget saat melihat pria tua itu. Ternyata dia kakeknya. Karna saking kangennya sudah lama tidak bertemu, Icha langsung turun dari becak dan berlari menghampiri pria tua itu dan memeluknya. “Kakek” teriak Icha sedikit fasih mengucapkannya. Pria tua itu bingung. Kemudian istrinya keluar rumah dengan langkah tergesa-gesa. “Cong, cucu kita dari Tokyo katanya mau datang kemari” kata wanita tua padanya. Dia heran melihat suaminya dipeluk perempuan lain. Dengan cepat dihampirinya perempuan itu. “Dia siapa Cong?” tanya istrinya lagi. Icha mendengar suara neneknya lalu dilepas pelukannya itu dari kakeknya. “Nenek?” teriak Icha lagi. Wanita tua itu mengenal Icha karna dia sudah melihat foto cucunya ini. “Soe Mei Lan!” teriak wanita tua itu keras dan langsung memeluknya erat. Wak Acong dan pria itu saling bertatapan bingung. Setelah hampir 5 menit berpelukan, akhirnya mereka melepas pelukannya. “Ini Soe Mei Lan. Cucu kita” kata wanita tua itu pada suaminya. “Apa? Ini Mei Mei kecilku?” tanya sang suami padanya. “Mmm” jawab wanita tua itu sambil mengangguk. Wak Acong pun langsung memeluk Icha sambil tertawa senang. “Ternyata kau sudah besar Mei Mei. Kakek rindu kali samamu” gerutu sang kakek. “Aku juga kek” jawab Icha senang.
***
“Mo pigi mana ka?” teriak suara anak laki-laki Papua pada seorang temannya.
“Beta mo kesana. Kamong?” jawab anak laki-laki berkulit hitam dan berambut keriting itu.
“Tu son jo ho. Marmeam satur hita di son. Beta!” sambung anak laki-laki berlogat batak.
“Asso. Beta mo pi jemput usy” jawabnya lagi.
“EPENKAH!” teriak mereka pada anak laki-laki Ambon itu. Mereka menertawainya. EPENKAH itu singkatan dari bahasa gaulnya masyarakat Papua yang artinya Emang Pentingkah. Karna kesalnya dia pun menjawab, “Itu Lagi!”. Kadang kalimat “Itu Lagi” digunakannya jika dia bercerita dan malas mengomentari.
Icha senang melihat anak-anak itu bermain sambil tertawa. Sudah beberapa hari Icha di rumah kakeknya, tapi Icha belum dapat teman disana. Sang nenek melihatnya mengintip dari jendela rumah lalu menghampirinya. “Hayya. Jangan cuma disini aja. Mainlah keluar gabung sama anak-anak. Nanti kamu bosan disini terus” celoteh nenek menghiburnya. Icha senang nenek mengijinkannya main bersama anak-anak itu. Icha pun berlari keluar rumah dan menghampiri anak-anak itu yang tengah asyik bermain catur dibawah pohon seri. “Hai” sapa Icha pada mereka. “Ko sapa?” tanya anak laki-laki Papua padanya. “Mmm.... Aku Jessicha or call me Icha. I've just come from Tokyo three days ago. Boleh aku main sama kalian?” jawab Icha dengan bahasa Indo-Inggrisnya. “Kumaha atuh. Salira boleh euy main sama kami” jawab anak perempuan Sunda itu dengan lembut. Icha tersenyum lalu berkata ,” Kalau nama kalian siapa?”. “Namaku Ucok! Sebenarnya nama lengkapku Tahan Sagala, tapi kawan-kawanku ini suka kali manggil aku Ucok” ceplos Ucok dengan khas bataknya yang kental. Icha menahan tawanya mendengar cara Ucok bicara. “Hai Ucok. Nice too meet you” kata Icha sambil menyalam Ucok dan tersenyum padanya. Ucok yang kelihatan bingung apa yang dikatakan Icha tak mau ambil pusing dan menyalam tangan Icha yang mulus itu. “Aku Mesak” sambungnya sambil menyalam Icha. “Saya Mimin. Senang berkenalan sama kamu Icha” jawab Mimin sambil menyalami Icha. Sebenarnya ada satu lagi teman dekat mereka yaitu si Kriwil. Mereka 4 sekawan dengan suku berbeda-beda. Ada batak, papua, sunda dan ambon. Mereka berteman dari kecil hingga sekarang. Meski pun berbeda suku, etnis, agama, ras, dll, tapi mereka tetap solid dan mereka jarang atau hampir bahkan tidak pernah berantem. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Mesak, Kriwil dan Mimin pendatang di Kelurahan Perdagangan III, sedangkan Ucok asli warga setempat. Di desa tempat mereka tinggal mayoritas beragama kristen tapi warga setempat saling menghargai agama atau pun suku lain. Mereka hidup rukun dan akur. Saling membantu warga lain bila mereka mengalami kemalangan atau musibah. Walau pun jauh dari kesan kota metropolitan, tapi mereka bahagia bisa tinggal disini.
Icha senang bermain dengan 4 sekawan ini. Dari pagi sampai malam Icha menghabiskan waktunya bermain bersama mereka. Ucok, dkk, mengajak Icha naik becak mandi-mandi ke Sungai Lobang atau yang lebih dikenal dengan sebutan sunglo di Kerasaan. Jaraknya setengah jam dari Perdagangan. Mereka naik becak milik pamannya Kriwil yang dibawa langsung sama Kriwil sendiri. Becak yang biasanya maksimal untuk 2 penumpang itu melebihi kapasitas. Icha dan Mimin duduk dibangku, sedangkan Ucok duduk dibelakang Kriwil dan Mesak duduk pas di pintu masuk becak. Mereka tidak takut ditilang polisi pada hal di simpang sunglo itu ada pos polisi. Setibanya di sunglo, Mesak, Ucok, Mimin dan Kriwil langsung lompat ke dalam sungai dan berenang bersama teman-teman mereka yang lain. Icha tidak berenang, dia bingung melihat temannya berenang pakai baju kaos dan celana pada hal yang Icha tahu biasanya berenang itu pakai baju renang di kolam renang dan bukan di sungai. Icha cuma bisa melihati temannya berenang dari pinggir sungai. Icha belum pernah mandi di sungai selama hidupnya karna yang dia tahu sungai itu kotor dan banyak bakteri. Mimin memaksa Icha ikut mandi, tapi akhirnya Icha mau karna Icha pikir kapan lagi dia bisa berenang di sungai bersama dengan teman-temannya. Saking senangnya Icha berlari dan terjun ke dalam sungai sambil berteriak senang. Ucok, Mesak, Kriwil dan Mimin heran melihat Icha.
Icha bosan di rumah menunggu 4 sekawan itu pulang sekolah. Takut Icha merasa bosan di rumah, Wak Acong mengajaknya pergi ke ladang. Disana banyak kelapa sawit dan daun singkong. Icha membantu kakeknya menanam sayuran di ladang sambil menunggu 4 sekawan itu pulang.
“Kamorang su balek” kata kakak Kriwil pada 4 sekawan ini .
“Su usy” jawab Mimin dengan bahasa ambon.
Seperti biasa, setelah pulang 4 sekawan ini mengerjakan tugas sekolah bersama karna mereka 1 satu kelas. 4 sekawan ini terkenal di sekolah mereka paling kocak, gokil, kompak, baik dan setia berteman. 4 sekawan ini juga dikenal pintar dan juara kelas. Saat mengerjakan tugas, mereka sering bercanda tapi terkadang mereka serius. Setelah 2 jam ngerjakan tugas, mereka pun bermain. “Main apa kita?” tanya Ucok. Mereka berpikir mencari ide buat main. Dari kejauhan Mesak melihat Icha sedang membantu kakeknya menanam sayuran di ladang. “Itu Icha!” teriak Mesak hingga membuat ketiga temannya itu terkejut. Tookkkkk. Ketiga temannya menjitak kepala Mesak serentak. “Salira bikin kaget aja” kata Mimin kesal. “Aduh, sakit tau! Maksud sa kitong bantu Icha nanam sayuran di ladang Wak Acong” kata Mesak sambil mengelus-elus kepalanya. “Ohhh” jawab mereka serentak. 4 sekawan ini pun menghampiri Icha dan Wak Acong yang tengah asyik menanam sayur di ladang. Icha senang melihat 4 sekawan ini datang. Mereka menanam sayur sambil bermain di ladang Wak Acong.
Jam 3 sore 4 sekawan dan Icha tidur-tiduran di bawah pohon seri. “Kitong maen apa ka?” kata Mesak dengan nada lemas. “Main kastilah yok, udah lama nggak main kita. Acem?” sahut Ucok. “Good idea. Kita main kasti yuk” sambung Icha semangat. Ucok pun mengambil bola kasti dan tongkatnya. Mereka bermain di samping gereja HKBP. Karna jumlah mereka ganjil, Kriwil mengajak Naomi, kakaknya bermain dengan mereka. Icha, Mesak dan Kriwil satu tim, sedangkan Mimin, Ucok dan Naomi satu tim. Untuk menentukan tim yang bermain pertama, dilakukan undian yang biasa disebut  suten. Suten dilakukan oleh kedua ketua tim. Tim yang kalah dalam suten, bertugas menjaga camp dan bola kasti dipukul oleh tim yang menang. Saat suten tim Mesak kalah, jadi Tim Ucoklah yang bermain lebih dulu. Permainan bola kastinya berlangsung seru dan meriah karna banyak warga yang menonton mereka. Mereka terhibur menontonnya karna ada adegan-adegan lucu yang mengundang tawa. Bahkan orang tua mereka masing-masing pun turut serta jadi penonton. Ucok berlari menyelamatkan diri tapi Icha berhasil melempar bola kasti mengenai kakinya. Adegan lucu lainnya Icha tidak bisa memukul bola kasti sebanyak 3 kali hingga membuat timnya kalah. Dan akhirnya tim Ucok, dkk, yang memenangkan permainan bola kasti.
Hari sabtu sekolah libur. Hari ini dimanfaat 4 sekawan dan Icha bermain lagi. “Semalam seru pisan euy mainnya” kata Mimin senang. “Yeah, you are the winner” sahut Icha senyum. Pagi itu cuaca cerah sekali. Mereka tengah asyik membahas permainan bola kasti semalam sambil malas-malasan dibawah pohon seri tempat mereka selalu nongkrong tiap hari. “Mmm... main balap karung yuk?” ajak Mesak tiba-tiba. Kebiasaan Mesak memang mengagetkan teman-temannya hingga dia selalu dapat bintang di kepalanya. Tokkkk. Tokkkk. Tokkkk. Tokkk. Satu per satu mereka menjitak kepala Mesak saking kesalnya. Mesak dapat 4 jitakan di kepalanya.
 “Auuhh!”.
Hari sudah siang, mereka pun bermain balap karung. Karna halaman samping gereja HKBP cukup luas, mereka bermain disitu karna kalau ke stadion jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Kriwil minta bantuan kakaknya lagi buat jadi wasit balap karungnya. 5 goni dan peluit sudah disiapkan. 4 sekawan ini sering bermain, jadi alat perlengkapan main mereka selalu tersedia. Mereka 5 berdiri dibelakang mistar. Jarak yang mereka tempuh 7 meter  ke sebrang. “Satu, dua, tiga! Prriitttt!” tiupan peluit wasit yang menandai permainan balap karung di mulai. Mesak, Ucok, Icha, Kriwil dan Mimin berlari dalam karung berlomba untuk sampai disebrang garis. Warga yang saat itu tengah lewat melihat mereka bermain, warga pun jadi ikutan nonton karna balap karung ini permainan yang mengasyikkan dan mengundang tawa juga. Ucok jatuh karna dia menginjak goninya sendiri, sedangkan Mesak dan Mimin saling bertabrakan hingga membuat mereka jatuh. Semua warga tertawa melihatnya. Semakin sore semakin meriah dan semakin banyak warga yang menonton mereka bermain balap karung. Yang jadi pemenangnya adalah Icha dan Kriwil.
Malamnya mereka karaoke bersama diiringi gitar, rebab dan tifa. Mereka mengkolaborasikan alat musik daerahnya masing-masing. Mereka juga menyanyikan lagu daerahnya masing-masing. Lagu apuse, o tano batak, butet, rasa sayange, sio tantina, bubuy bulan,  dll.
Selama mengisi liburannya di Perdagangan, banyak hal baru yang ditemukan Icha. Saat pesta pernikahan kakaknya si Ucok, mereka menari tor-tor dan sigale-gale bersama diiringi gonrang dicampur  alat musik modern. Bahkan mereka menari tarian budayanya masing-masing seperti jaipong, cakalele, perang dan perisai. Mereka juga makan saksang daging babi. Mimin yang beragama muslim tidak bisa makan saksang, jadi Mimin makan punya parsubang (makanan khusus untuk yang tidak boleh makan daging babi).
Icha menikmati masa liburannya. Selain mendapat banyak hal yang berharga dari keragaman Indonesia, Icha juga mendapat 4 teman sekaligus. Namun malam itu Icha sedih mengingat semua kenangannya bersama 4 sekawan. Lusa Icha sudah harus balik lagi ke Tokyo karna masa liburmya sudah habis. Tanpa disadari sesuatu jatuh dari pelupuk matanya. Begitu singkat waktu yang dirasakannya bersama 4 sekawan ini. Wak Acong melihat cucu kesayangannya itu kelihatan sedih karna harus pulang lusa ke Tokyo. Dihampiri cucunya yang sedang duduk di depan teras rumah pada hal jam sudah menunjukkan  pukul 23.38 malam. Icha menatapi bintang dan galaksi lainnya di langit hitam. Wak Acong  menemani cucunya sambil bercerita tentang kedua orang tuanya disana.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Mimin mengajak Icha bermain congklak. Sambil berteduh dibawah pohon seri mereka bermain congklak karna saat itu harinya panas sekali. Mimin mengajari Icha bermain congklak, sedangkan Mesak, Ucok dan Kriwil tengah asyik memanjat pohon seri dan bernyanyi diatas pohon sambil memakani buah seri yang kecil dan manis itu. Muka Icha kelihatan kusam hari itu. Mimin merasa ada yang beda dari Icha. “Kamu kenapa Icha. Muka kamu kelihatan pucat” kata Mimin sambil memegang wajah Icha. Icha cuma tersenyum. Icha kembali melanjutkan bermain congklak. “I must come back to Tokyo tomorrow” ucap Icha sedih. Icha menundukkan kepalanya. Mimin kaget mendengarnya dan Mimin jadi ikutan sedih. Mimin teriak pada ketiga temannya yang sedang asyik di atas pohon seri, “Hei! Besok Icha mau balik ke Tokyo!”. Mesak, Ucok dan Kriwil terdiam. Di atas pohon mereka saling bertatapan. Sekejab kesenangan itu sirna saat tahu besok Icha harus kembali pulang ke Tokyo. Mereka merasa kehilangan. Mereka bertiga turun dari pohon dan duduk bersama Mimin dan Icha. “Beneran Cha besok kau mau pulang?” tanya Ucok penasaran. Icha tidak menjawab, dia cuma geleng-geleng kepala. Mimin memeluk Icha erat dan menangis sejadinya. Baru 2 minggu mereka mengenal Icha tapi mereka sudah sangat menyayangi Icha. Mesak, Ucok dan Kriwil pun ikut memeluk Icha. Kakek dan nenek Icha dari rumah melihat mereka berlima berpelukan dan mereka kelihatan sedih sekali.
Jam 8 Icha harus berangkat ke Medan. Icha sedih teman-temannya tidak bisa mengantar kepergiannya ke bandara karna mereka sekolah. Selama  di perjalanan Icha diam dan tidak mengobrol pada kakek-neneknya. Bahkan Icha menangis dan memeluk neneknya. Wak Acong pun jadi sedih melihat cucunya menangis. Akhirnya mereka pun sampai di Bandara Polonia. Icha berharap 4 sekawan itu datang melihat kepergiannya, namun hari itu dia tidak melihat kemunculan mereka. Hatinya jadi semakin sedih. Matanya bengkak dan merah. Jadwal keberangkatan pesawatnya jam 2 siang. Icha makan siang bersama kakek dan neneknya didekat sekitar bandara. Setelah itu mereka masuk ke dalam bandara mengantar Icha. Langkah Icha lunglai dan Icha selalu melihat ke belakang berharap 4 sekawan itu muncul tiba-tiba. “Soe Mei Lan!”. Langkah Icha dan kakek-neneknya terhenti. Ada yang memanggil nama Cinanya. Icha menoleh ke belakang. Senyum Icha kembali hadir saat tahu kalau yang memanggil namanya adalah 4 sekawan. Mereka melambaikan tangan pada Icha dan Icha membalas melambaikan tangan sambil tertawa. 4 sekawan berlari menghampirinya. “Wow! You are so beautiful” kata Ucok memuji Icha dengan logat bataknya. Mereka tertawa mendengarnya. “Katong pung hadiah buat ale”  kata Kriwil dengan bahasa ambonnya. “What’s that?” tanya Icha penasaran. “Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi Icha” sambung Mimin. “I hope we can gather again dan play together” sahut Icha. Ucok memakaikan ulos di tubuhnya Icha. “Inilah cinderamata dariku. Aku harap kita bisa berjumpa lagi. Sayang aku samamu Icha” kata Ucok sedih lalu memeluknya. Mesak memberi tifa kesayangannya buat Icha. “Tifa ini barang kesayanganku. Jaga ya sampai kita bertemu lagi” kata Mesak sambil memeluk Icha. Mesak menyukai Icha karna Icha cantik dan baik, tapi Icha tidak mengetahui hal ini, cuma 4 sekawan yang tahu. Cukup lama Mesak memeluk Icha hingga membuat Kriwil menariknya. “Cari-cari kesempatan ale yo” katanya pada Mesak. Mereka tertawa. Mimin memberikan cinderamata T-shirt yang bergambar Villa Isola dari Bandung dan Mimin memeluk Icha. Kriwil memberi bingkai berisi foto mereka berlima saat bermain balap karung. Icha semakin sedih saat melihat foto itu lalu memeluk 4 sekawan dengan erat. Saat itu haru sekali, semua orang melihati mereka. Icha tidak memberikan apa-apa tapi Icha berjanji akan kembali lagi pada mereka. “I promise I’ll be back for you”. Akhirnya waktunya pun tiba, Icha harus masuk ke dalam bandara karna sebentar lagi pesawatnya akan terbang transit ke Jakarta. Sebelum pergi, Icha memeluk kakek dan neneknya. Icha menyuruh Mimin memotonya bersama kakek dan neneknya. Setelah berfoto, Icha pun masuk ke dalam. Air mata tidak bisa terbendung lagi. Mereka semua menangis, Icha pun begitu. Mereka melihat keberangkatan pesawat Icha, setelah melihatnya mereka pun kembali pulang ke Perdagangan.

= bersambung =

Rabu, 19 Maret 2014

cerpenku 1

“GOOD BYE MANTANKU”
Oleh : Indah Simanjuntak

“Lo mau gak jadi cewe gue?” isi sms Rara yang ditujukan buat Icha.
Hampir aja Icha lupa bernapas karna ngebaca sms dari Rara yang membuatnya setengah mati gak percaya. Cowok yang selama ini disukainya itu nembak dia. Tangannya gemetar, giginya nampak kelihatan jelas tersusun rapi karna senyumnya terlalu lebar, jantungnya berdetak kencang banget, dan suara hatinya bersorak sorai. Icha happy buanget! Dibacanya berulang-ulang sms itu untuk memastikan itu sms dari Rara atau gak dan ternyata itu sms Rara. Setelah yakin kalo itu sms cowok yang disukainya lalu dengan cepat Icha ngebalas smsnya, “Ini serius? Lo gak lagi bercanda ‘kan Ra?”.
“Gak! Gue ngga lagi bercanda kok. Kalo gitu besok kita ketemu di taman belakang sekolah jam 2. Ok. Bye my honey sweety J “ balas Rara cepat. Karna saking senangnya Icha langsung melompat-lompat di atas tempat tidurnya.
Praakkkk! Icha terjatuh. Icha gak sadar kalo dia melompat tepat di pinggir tempat tidurnya sehingga Icha gak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan jatuh. Kaki kirinya terkilir hingga berubah membiru. Sang mama yang lagi masak di dapur terkejut mendengar suara riuh dari kamar Icha lalu dengan cepat berlari menghampiri kamar putri semata wayangnya itu.
“Aduh” rintih Icha kesakitan sambil memegangi kaki kirinya yang terkilir itu.
“Ya ampun Cha, kaki kamu kenapa nak?” tanya sang mama panik.
“Tadi Icha lompat-lompat Ma diatas tempat tidur, ehh Icha malah jatuh” jawab Icha manja.
Takut terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya itu, sang mama dengan cepat membawanya ke klinik terdekat di kawasan rumahnya. Karna kaki kirinya terkilir, dokter menganjurkan supaya Icha memakai tongkat dan kaki kiri Icha pun diperban. Sakitnya tak sebanding dengan bahagia yang Icha rasakan. Meski pun kakinya terkilir, Icha kelihatan senang sekali hingga membuat mamanya bingung.
Saat sampai di sekolah semua mata melihat kaki kiri Icha yang diperban dan memakai tongkat. Semua siswa bisik-bisik saat melihat Icha, tapi Icha menghiraukan mereka. Setibanya di kelas, Dilla, sahabat sekaligus teman semejanya Icha terkejut melihat kaki Icha yang diperban. Setengah berlari Dilla menghampiri sahabatnya itu sambil memapahnya duduk ke bangkunya.
“Kaki lo napa Cha?” tanya Dilla sambil melihati kaki Icha ..
“Hahaha. Gua gak pa pa, kaki gue cuma terkilir doang karna jatuh dari tempat tidur semalem” jawab Icha santai sembari mengeluarkan buku pelajarannya.
“Kok bisa jatuh?” tanya Dilla penasaran
“Ini semua karna Rara. lo tau gak sih, Rara itu nembak gue semalem lewat sms. Ini smsnya” jawab Icha pelan sambil menunjukkan sms dari Rara.
What???” teriak Dilla kencang dengan mata melotot. Karna suaranya yang kencang, dengan cepat Icha menutup mulutnya. “Sssttttt”.
Dilla juga gak percaya dengan apa yang dibacanya itu. Rara alias Raynald Geovani adalah cowok yang disukai banyak cewek di sekolahnya. Wajahnya beda tipis sama aktor korea yang terkenal, Lee Min Ho. Kulitnya putih, tinggi, matanya cipit dan cara berpakaiannya hampir seluruhnya meniru gaya Goo Joo Pyo. Maklum aja, Rara ini anak salah satu pengusaha terkenal. Sedangkan Yessica Harmonia Putri alias Icha terkenal juara di sekolahnya, sering memenangkan kejuaraan olimpiade antar sekolah, baik, ramah pada semua orang, tubuhnya mungil, rambutnya meniru model rambut Geum Jan Di, kulitnya sawo matang dan matanya berwarna coklat. Icha sangat fans sama Koo Hye Sun, dan setiap sore Icha gak pernah kelewatan nonton serial drama Korea yang terkenal itu, Boys Over Flower.
Tett. Tett. Bel pulang berbunyi. Perasaan Icha gak tenang, jantungnya tambah berdetak kencang saat melihat jam tangan berwarna pink itu di tangan kirinya menunjukkan pukul 13.50. Waktunya semakin dekat.
“Lo yakin mau nemuin dia?” tanya Dilla ragu.
“Yakin” jawab Icha tersenyum kecil pada sahabat dekatnya itu.
“Okelah kalo gitu. Mmm. Perlu aku temenin?” tanya Dilla lagi.
“Gak usah. Gue bisa sendiri kok”.
“Ya udah deh. Kalo gitu gue pulang duluan ya. Kalo perlu sesuatu sms atau call me aja” kata Dilla setelah cipika cipiki dengan Icha.
Icha berjalan menuju halaman belakang sekolah dengan menggunakan tongkatnya. Kakinya masih diperban. Icha duduk dibawah pohon sambil menunggu Rara datang. Tak lama kemudian sosok yang ditunggu Icha pun muncul. Jantung Icha makin dan makin berdetak kencang, rasanya jantung Icha mau jatuh dari tempatnya. “Santai Icha, jangan grogi” bisiknya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
“OMG! Kaki lo napa Cha?” tanya Rara panik tanpa mengatakan “Say hello” dulu. Ekspresinya sangat panik dan kelihatan khawatir. Rara melihat kaki kiri Icha yang diperban putih itu.
“Gue gak pa pa kok Ra, semalam gue terpeleset di kamar mandi” jawab Icha bohong.
“Tapi kenapa sampe diperban gitu Cha, berarti parah donk kaki lo” gerutu Rara sok perhatian.
“Kata dokter gak pa pa kok. Lo tenang aja. Oh ya maksud sms lo yang semalam itu apa?” ceplos Icha.
Rara terdiam. Rara menatap mata Icha tajam. Lalu mulai menggenggam kedua tangan Icha dan berkata, “gue suka sama lo Cha, lo mau gak jadi cewe gue?”.
Duaarrrrrrr! Icha merasa petir menghantam dirinya. Mati rasa, itu yang dirasakan Icha saat mendengar pengakuan Rara. Mata mereka saling berpandangan tanpa berkedip sedikit pun. Dengan terbata-bata Icha menjawab, “ii...i...iya.. gue mau kok jadi cewe lo”. Rara tersenyum lalu memeluk dengan erat tubuh Icha. Rara dapat merasakan jantung Icha berdegup kencang. Seluruh tubuh Icha gemetar. “OMG” kata Icha dalam hati sambil mengeratkan pelukan Rara. Ditempat kejauhan, ada seorang pria yang mengabadikan momen Icha dan Rara berpelukan.
“Thanks ya Cha, lo udah mau nerima gue jadi cowo lo” kata Rara sambil mencium kening Icha. Icha pengen banget lari lalu berteriak betapa senangnya dia hari ini, tapi Icha ingat kalo kakinya lagi diperban. “Oke. Gue antar lo pulang ya” kata Rara lagi sambil memapah Icha berjalan.
Besoknya foto Icha berpelukan sama Rara diposting di mading sekolah. Dilla kaget melihat foto itu saat Dilla tengah lewat mau ke kamar mandi. Ternyata semua siswa udah berkerumun melihat foto itu, lalu dengan cepat Dilla mencabut foto itu dari mading kemudian setengah berlari menuju kelasnya. Dilla pun mengurungkan niatnya ke kamar mandi meski pun sebenarnya dia udah kebelet banget. Icha yang tengah asyik membaca tiba-tiba kaget karna kedatangan Dilla yang tiba-tiba mengagetkannya dengan napas terengah-engah. Tanpa basa basi Dilla langsung menunjukkan foto itu pada Icha. Shock? Pasti! Kaget? Iya. Kesal? Buanget! Itu perasaan yang Icha rasakan saat melihat foto berpelukannya ternyata tersebar. Wajahnya pucat. Lalu Icha meng-sms Rara dan menyuruh Rara menemuinya di halaman belakang sekolah. “Oke” jawaban sms dari Rara.
Icha duduk di bawah pohon sambil minum sprite yang dibelinya dari kantin. 15 menit kemudian Rara datang. Wajah Rara kelihatan tenang sedangkan Icha pucat pasi. Icha kesal kalo mengingat foto itu. Icha yang selama ini dikenal sebagai siswi baik di sekolahnya merasa tercemar karna foto itu. “Hai sayang, kenapa tiba-tiba ngajak ketemuan?” tanya Rara tanpa basa basi. Icha lalu menunjukkan foto itu. Ekspresi Rara biasa aja bahkan Rara tertawa. Icha bingung. Lalu Rara menjelaskan dan berusaha untuk menenangkan hati Icha. Rara mengaku sudah tau tentang foto itu dan Rara juga mengatakan bahwa dia senang semua siswa tau tentang hubungan mereka dan Rara gak peduli sama orang yang udah nyebarin fotonya bersama Icha. Icha sedikit lega karna ternyata Rara mengakuinya sebagai pacar.
Setelah 3 bulan jadian sejak bulan november lalu, Rara sering datang ke rumah Icha buat belajar bareng. Icha yang terkenal pintar dan juara kelas itu dengan senang hati mengajari Rara. Mereka mulai intensif belajar bareng karna bulan April mereka menghadapi UN.
Hari-hari Icha penuh dengan kebahagiaan. Mereka sering jalan, nonton, nongkrong, terkadang mereka refreshing berdua. Setiap momen mereka abadikan. Rara sangat perhatian padanya. Semangat belajar Icha semakin bertambah dan bertambah, bahkan Icha semakin populer di sekolahnya sejak berpacaran dengan Rara dan hampir tiap hari Icha pergi bareng ke sekolah naik mobil ferrari enzo milik Rara.
LULUS 100%
Pengumuman yang tercantum di mading sekolah. Semua siswa SMA NUSA BANGSA berteriak “HOREEE!” tanpa terkecuali Icha dan juga Rara. Semua siswa senang dan mereka berpesta pora seperti konvoi keliling sekolah, corat coret baju, dan sebagian lagi sibuk bertanya pada teman-temannya setelah lulus mau melanjut kemana.
Icha bebas testing masuk perguruan tinggi negeri karna Icha berprestasi di sekolahnya, sedangkan Rara harus ikut ujian. Icha berusaha keras membantu Rara agar masuk universitas negeri yang sama dengannya. Dan akhirnya pun Rara lolos. Malamnya Rara mengajak dinner Icha, nonton biskop dan memberinya hadiah juga, pokoknya mereka having fun banget deh.
Namun semua berubah setelah Rara masuk universitas negeri, Rara yang tadinya perhatian, care, sering ngapelin Icha tiba-tiba lost contact. Icha bingung dengan perubahan sifat pacarnya itu. Icha menelponnya tapi Rara udah ganti nomer hp. Icha mulai panik. Icha lalu menelpon Dilla, Dilla yang lebih berpengalaman pacaran itu menjelaskan pada Icha gimana dunia pacaran itu. Setelah mendengar penjelasan sahabatnya itu perasaan Icha sedikit tenang.
Dilla yang lagi ngedate bersama sang pacar tiba-tiba melihat Rara di mall jalan bukan sama Icha melainkan sama cewek lain. Cewek yang jauh lebih cantik dari Icha. Kulitnya mulus, berpostur tinggi, body bak gitar spanyol dan sepertinya cewek itu seorang model karna Dilla sering melihatnya di majalah atau tabloid. Ini bukan pertama kalinya Dilla melihat Rara jalan sama cewek lain, Dilla sering melihatnya jalan dengan cewek yang berbeda-beda kadang di bioskop, mall, dan juga restoran, tapi Dilla gak mau ngasih tau hal ini pada Icha karna gak mau melihat sahabatnya itu sedih. Dilla meminta bantuan sang pacar agar membantunya menyelidiki hubungan Rara dengan cewek-cewek itu. Setiap momen diabadikan Dilla di camera canon miliknya sebagai bukti. Tak lama kemudian terkuaklah rahasia besar yang selama ini disimpan Rara. Ternyata Rara taruhan dengan teman geng motornya kalo dia bisa lulus SMA dan masuk perguruan tinggi. Tujuan Rara pacaran dengan Icha bukan karna dia cinta tapi hanya karna ingin memanfaatkan Icha agar mau mengajarinya. Dilla sontak terkejut saat sang pacar memberitahunya, ternyata pacar Dilla kenal dekat dengan Rara.
Besoknya Dilla mengajak Icha bertemu. Mereka memang tidak di universitas yang sama tapi mereka sering berkomunikasi bahkan sesekali mereka jalan, nonton, shopping, makan dan refreshing bareng seperti masa waktu mereka SMA dulu. Dilla bersama sang pacar menemui Icha di salah satu cafe ternama di dekat kampus Icha. Dilla sedih melihat raut wajah tak semangat pada sahabatnya itu, tapi Dilla tetap harus membongkar semua rahasia Rara pada Icha karna Dilla gak mau melihat teman sebaik Icha dikhianati sama cowok biadab seperti Rara. Meski pun berat, tapi Dilla tetap nekad harus memberitahukan hal ini pada Icha.
“Hei dil, udah lama gue gak ngeliat, gue kangen” ceplos Icha sambil cipika cipiki dengan Dilla. Lalu Icha menyapa pacar Dilla juga.
Tanpa berpikir panjang Dilla meletakkan sebuah amplop coklat di depan Icha. Icha bingung lalu melihat Dilla dan juga pacarnya. “Ini apa dil?” tanya Icha penasaran sambil membuka isi amplop coklat itu.
Braaakkkkk! Hati Icha hancur berkeping-keping saat melihat isi amplop itu. Tak terasa air matanya menetes. Dilla turut merasakan kesedihan sahabatnya itu. SAKIT! Satu kata yang menggambarkan suasana hati Icha. Lalu pacar Dilla menjelaskan semua kebohongan Rara serta gimana kehidupan Rara yang berada di lingkaran setan. Memang diakui dulu Rara adalah anak baik, namun sejak broken home Rara mulai berubah karna kurang kasih sayang dari orang tuanya. Hati Icha mulai panas, dia butuh es buat ngedinginin hatinya. Ternyata ferrari enzo milik Rara itu hasil dari taruhannya. Dilla terus memberikan motivasi pada Icha supaya Icha gak makin down dan sedih. “Gue gak pa pa kok. Makasih buat info kalian. Gue yakin pasti kalian gak cuma sehari nyari info ini, untuk itu gue bilang makasih banget” kata Icha berusaha tegar meski nada suaranya mulai berubah.
            Setelah tau semua kebohongan dan keburukannya Rara, Icha mengajak Rara bertemu. “GUE PENGEN KETEMU LO BESOK JAM 1 DI CAFERIA DEKAT SIMPANG KAMPUS. PENTING!” isi sms Icha yang dikirim buat Rara.
            Keesokan harinya mereka bertemu, Rara yang udah menunggu Icha hampir sejam kelihatan kesal. Berkali-kali di telponnya Icha tapi hp Icha gak aktif. Gak lama kemudian Icha datang dengan penampilan yang beda. Icha yang selama ini berpenampilan simple alias apa adanya itu kelihatan anggun dan menawan menggunakan dress pink selutut dengan rambut terurai rapi ditambah pita pink di rambutnya, kemudian lipstick pinknya juga semakin menyempurnakan dirinya. Rara heran melihat perubahan Icha yang drastis bak model. Dengan santainya Icha berkata, “kita putus!”.
Rara terkejut. “apa???” tanya heran sambil mata melotot. “Kita putus?”.
“Iya. Maaf gue gak mau pacaran sama penipu yang cuma hanya mau manfaatin gue” jawab Icha sok tegar meski didalam hatinya dia menangis. Lalu Icha memberikan amplop coklat yang diberikan Dilla kemarin padanya. Dengan cepat Rara membuka amplop itu dan melihat foto-fotonya bersama cewek lain.
“Gue sadar gue memang gak secantik mereka, tapi inilah gue yang sebenernya. Gue udah berubah Ra dan gue bukan cewek polos yang bisa lo tipu. Gue akuin lo emang hebat!” kata Icha berusaha menahan emosinya.
“Tapi cha......”
“Gak ada tapi-tapian dan gak ada penjelasan atau pun kata maaf. Gue udah maafin lo kok. Gue harap lo berubah dan lo bisa dapetin cewek yang lebih baik dari gue” potong Icha. Setelah itu Icha meninggalkan Rara yang duduk tak berdaya. Rara memandangi Icha dengan tatapan kosong. Seluruh badannya lemas dan Rara gak sanggup bangkit berdiri. Saat berjalan meninggalkan Rara, air mata Icha jatuh. Cuaca yang mendung dan kurang bersahabat saat itu menggambarkan suasana hati mereka.
7 bulan kemudian, Icha sudah normal kembali dan bisa ngelupain sang mantan, Rara. Icha yang sibuk dengan kegiatan kampusnya dapat dengan cepat membuang semua kenangannya bersama Rara. Hari itu Icha menemui Dilla di restoran favorit mereka. Mereka bercanda tawa dan tampak kelihatan bahagia. Karna lama tak bertemu banyak hal yang mereka bicarain. Dilla senang melihat senyum sahabatnya itu sudah kembali.


= THE END =

Kamis, 12 Desember 2013

HASIL SIDANG PLENO I
PENGURUS KOMISARIAT 
GMKI FISIP USU M.B. 2013-2014
PENANGGUNG JAWAB KOMISARIAT :
v  Ketua                   : Indah A. M. Simanjuntak
v  Wakil Ketua         : Desrina Nahampun
v  Sekretaris            : Ukap Liboy Pane

1.     Bidang Organisasi dan Komunikasi
Wakil Sekretaris    : Lia Winni Purba
Biro                       : Deddy Martunas Nainggolan
No.
Program
Pelaksanaan
Metode
1.
Pemberdayaan mading
Setiap minggu
Mengumpulkan, menampilkan informasi dan meningkatkan kreativitas anggota.
2.
Konsolidasi internal
1 kali 2 minggu
Futsal, nonton bareng, sharing dan mendaki gunung.
3.
Pemahaman konstitusi
4 kali
Diskusi, tes penguasaan materi, pembagian AD/ART dan teknik persidangan.

2.     Bidang Pendidikan Kader
Wakil Sekretaris    : Wandi Sardino Siagian
Biro                       : Arnimisari Juliana Ambarita
No.
Program
Pelaksanaan
Metode
1.
Diskusi Pengembangan Wacana
7 kali
Diskusi dan aksi.
2.
Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)
1 kali
Pelatihan.

3.     Bidang Kerohanian
Wakil Sekretaris    : Hosianna Putri Suci Manik
Biro                       : Josua Ebenezer Simanjuntak
No.
Program
Pelaksanaan
Metode
1.
Perayaan natal
1 kali
Praise and worship, kebaktian dan hiburan.
2.
Paskah
1 kali
Kebaktian padang dan games.
3.
Kebaktian
7 kali
Kebaktian.
4.
Penelaah Alkitab (PA)
6 kali
Kebaktian, diskusi dan games.

4.     Bidang Aksi dan Pelayanan
Wakil Sekretaris    : Jordan Sirait
Biro                       : Eltariat Waruwu
No.
Program
Pelaksanaan
Metode
1.
Diskusi kampus
3 kali
Diskusi dan aksi.
2.
Sunday schooling
 Setiap minggu
Kebaktian, kuis dan games.
3.
Bakti sosial
4 kali
Kerja bakti dan kunjungan kasih.

5.     Bidang Keuangan
Bendahara            : Lia Meliana Silitonga
Wakil Bendahara  : Irawati Sinaga
No.
Program
Pelaksanaan
Metode
1.
Iuran anggota
Setiap bulan
Pengutipan langsung Rp. 5.000,-/bulan
2.
Mencari dan menetapkan donator tetap dari senior
 -
Komunikasi dengan senior dan kunjungan kasih ke rumah senior.
3.
Usaha-usaha keuangan lainnya
-
Aksi dana dan proposal.

Dilaksanakan pada ;
Hari, tanggal      : Senin, 09 Desember 2013
Pukul                : 12.00 WIB - 19.00 WIB
Tempat             : Aula PKM CABANG MEDAN
Didampingi BPC:
-      Swangro Lumban Batu
-      Kristison S Pane