Sabtu, 20 Desember 2014

cerpenku 15

“JINGLE BELLS”
Oleh Indah Simanjuntak


“Jingle bells, jingle bells
Jingle all the way
Oh, what fun it is to ride
In a one horse open sleigh, hey! 2x”
Lagu Jingle Bells bergema keras di kamarku pagi ini. I feel so peace. Tiduran sambil bermain dengan tablet yang baru kubeli.
“Huh… nggak terasa bentar lagi natal” kataku dalam hati.
Tiap kali mendengar lagu natal, entah kenapa hatiku merasa damai dan tenang. Seolah lagu-lagu ini menghipnotisku. Satu album natal Mariah Carey menemaniku hingga siang menjelang.
Namaku Sheena. Hobiku menulis cerpen dan mendengarkan musik. Sempat vakum menulis, aku merasa ada yang hilang. Bagiku menulis cerpen merupakan pelayanan, dimana aku menghibur orang lain lewat karya tulisku. Ya, walau pun aku ini masih penulis amatir tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam cerpenku.
Aku rutin mengikuti lomba cerpen tapi tidak pernah sekali pun aku menang. Rasa kecewa dan putus asa sering kali menghampiriku. Bahkan cerpen yang aku posting di fesbuk atau di blog terkadang tidak mendapat respon. Aku berharap suatu saat cerpenku ini bisa menang lomba dan orang-orang bangga denganku. Itulah harapanku di natal tahun ini. Setiap malam sebelum tidur, aku selalu berdoa berharap mujizat itu nyata. Tapi nyatanya. Nothing. Aku jenuh. Aku merasa Tuhan meninggalkanku.
Hari demi hari kuhabiskan untuk menulis cerpen. Dalam sehari lima hingga tujuh cerpen aku tulis. Semakin aku sering gagal, semakin besar pula rasa kecewaku. Hingga suatu saat aku berhenti menulis. Dan aku pun berhenti berdoa. Berhenti berharap. Aku mulai menjauh dari Tuhan.
“Aku nggak percaya Tuhan lagi. Kau bohong, Tuhan! Kau pembohong! Aku benci! AAARRRGGHH!” teriakku sekeras-kerasnya.
***
Sudah hampir sebulan aku menghabiskan waktuku sia-sia. Bangun, mendengarkan musik, bermain tablet, kuliah dan tidur. Seperti itu hampir setiap hari.
Siang itu aku membuka twitter yang sudah lama tidak aku gunakan. News by news aku baca hingga akhirnya aku menemukan akun yang berisi kalimat-kalimat penyemangat.
“ORANG YANG TEKUN DAN SUNGGUH-SUNGGUH LEBIH DEKAT DENGAN KESUKSESAN, DIBANDINGKAN DENGAN ORANG MALAS YANG TAK MAU BERUSAHA.”
“That’s a amazing sentence!”gumamku dalam hati.
Entah kenapa kalimat ini membangkitkan semangatku lagi. Dengan semangat berkobar-kobar,  aku menyiapkan laptop, modem, speaker, dan yang selalu menemaniku tiap kali aku menulis, ice cappuccino. Tidak lupa aku memutar lagu-lagu natal untuk menambah semangatku. It’s time to action!!!
Kuawali dengan menjelajahi google untuk mencari lomba cerpen di bulan desember ini. Yup, I get it! Lomba cerpen natal dengan tema KEAJAIBAN. Tengah asyik mengetik tiba-tiba jari-jari tanganku berhenti. Pikiranku mentok. Berusaha mencari ide untuk dijadikan bahan cerpen yang akan aku lombakan. “Oh Ghost, help me please” pintaku memelas. Aku merasa lelah. Untuk menenangkan otakku yang lelah berpikir, kumanjakan tubuhku berebah di kasur. Lagu-lagu itu menarik mataku hingga akhirnya aku tertidur pulas.
“Pandanganku gelap. Entah berada dimana, aku merasa sekitarku dikelilingi bebatuan. Aku terjatuh dan bangkit, lalu terjatuh dan bangkit lagi hingga begitu seterusnya. Angin berhembus begitu kencang mengombang-ambingkan tubuhku. Seolah berada ditengah badai. Tiap lima menit sekali, musim berubah. Kadang dingin, panas, semi, gugur dan bahkan hujan. Darahku mengalir bak air. Seluruh tubuhku perih. Aku menangis dan berteriak sekuatnya. Tiba-tiba seseorang menjamah pundakku. Aku terkejut setengah mati. “Jangan takut. Aku akan menyelamatkanmu. Ulurkan tanganmu” katanya lembut. Aku tidak tahu ia siapa dan aku tidak bisa melihatnya karna pandanganku masih gelap. Kuulurkan tanganku dan ia menggenggamnya sangat erat. Ia bertanya padaku,”Apakah kau percaya padaku?” Aku terdiam sejenak. Berpikir. Aku mengambil napas panjang lalu menjawabnya,”Yaa, aku percaya. Tolong bawa aku keluar dari sini”. Ia tidak menjawab. Sekelilingku hening seketika. Lalu aku merasa seseorang  berbisik di telingaku dan berkata,”AKU, Yesus, yang kau percaya akan menyelamatkanmu. Kau telah meninggalkan AKU. Keputusasaan dan kekecewaan membuatmu melupakan AKU. Apa yang kau alami tadi adalah cobaan kecil untuk mengingatkanmu kembali agar selalu bersyukur dan percaya pada-KU. AKU tidak pernah sekali pun berpaling darimu. AKU sedang merancang yang terbaik untukmu. Jadi, tetaplah berpegang teguh pada-KU dalam keadaan apapun. Sebenarnya kau sedang berada di surga, di Rumah Bapa, namun karna kau tidak percaya pada-KU, matamu tidak bisa melihat walaupun sesungguhnya kau tidak buta. Dan tidak ada batu disini. Bukalah matamu, nak”.


Saat kubuka mataku, aku berada di kasur. Aku melihat sekelilingku. “Apakah aku bermimipi?”  Seluruh badanku penuh dengan keringat. Aku sadar aku bertemu Yesus dalam mimpi. Aku tidak menyangka Yesus mendatangiku dalam mimpi dan mengingatkanku. Aku pun menangis. Ternyata aku sudah melupakan Sang Juruselamat. Aku menyesal. Aku mengambil alkitab dan membacanya. Lalu aku berdoa memohon ampun dan aku menangis. Aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku atau umat-NYA. IA sedang menyiapkan rancangan indah buatku, tapi aku tidak sabar dan meninggalkannya.
Mimpi itu memberiku inspirasi. Aku merasa lahir baru. Dengan lihai jari-jari tanganku mulai menari bahagia. Aku menuangkan mimpiku ke dalam cerpen. Hingga akhirnya cerpenku selesai. Aku membaca ulang untuk memperbaiki kata atau kalimat yang salah. Lalu aku kirim ke email panitia lomba.
***
2 minggu kemudian.
Sore hari panas terik bercampur angin. Lagu Jingle Bells berkumandang di telingaku. Seperti biasa, aku memasang headset di telingaku dan berjalan pulang. Tiba-tiba alarm handphoneku berbunyi. Alarm itu mengingatkanku kalau hari ini pengumuman lomba cerpen. Aku tidak sabar membuka website lomba untuk mengecek pengumumannya. Dengan cepat aku melangkah. Setibanya di rumah, aku membuka laptop. Jantungku berdetak kencang. Dug dug dug, Tidak biasanya aku sesemangat ini. Loading. Sepertinya jaringan internetku sedikit bermasalah. Menunggu loading, aku berdoa.
“Ya Bapa, apa pun hasil dari pengumuman lomba ini, baik menang atau kalah, aku tetap berterima kasih. Ajariku untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Dan aku percaya, semua rancangan-MU indah pada waktunya. Amin”
Selesai berdoa, tiba-tiba handphoneku berdering. Nomor tak bertuan itu muncul di layar handphoneku.
“Halo, selamat sore. Benarkah ini Sheena Maseeya?” tanya si nomor tak bertuan itu.
“I…i…iya benar, saya sendiri” jawabku sedikit gugup.
“Oh, kami dari panitia lomba cerpen. Selamat ya Sheena. Cerpen kamu terpilih menjadi pemenangnya” katanya.
“Oh..oh.. my god. Thanks Jesus. Thank you so much. I love You. Really, really love You so much Jesus” teriakku senang dan melompat kegirangan. “Thank you Jesus!!! Thank you. Ha..halo mas?”
Tutt. Tutt. Tutt. Telepon terputus. Aku lupa kalau aku sedang bertelepon. Lalu pihak panitia mengirimku pesan cara mengambil hadiah pemenang.
“Sungguh Kau Allah Luar Biasa. Amazing God. Ini hadiah terindah natalku. Selamat natal Bapa, selamat natal Yesus dan selamat natal Roh Kudus. Terima kasih. Amin” doaku di malam natal.

Selasa, 16 Desember 2014

cerpenku 14

Make a wish
Oleh Indah Simanjuntak
Dengan begitu indah dia memainkan piano yang berada disudut kanan ruangan gereja. Dia dan piano itu sudah seperti saudara sehingga mereka begitu akrab dan bersahabat. Mereka seperti satu jiwa dan satu raga. Tidak hanya jarinya yang menari, tubuhnya pun turut mengikuti irama musik. Berserah Kepada Yesus. The great song. Siapa pun dia yang memainkan piano begitu indah, aku telah jatuh cinta padanya. Musik adalah sesuatu yang sering membuatku jatuh cinta. Terserah jenis musik apapun itu. Meskipun begitu, aku tidak pernah mencari tahu sosok dia yang setiap minggu bermain piano untuk Tuhan.


Pohon natal berdiri tegak disudut kiri gereja. Awesome! Layaknya seorang artis, semua mata yang melihatnya berdecap kagum. Satu dari miliaran ciptaan Tuhan yang begitu indah. Dihiasi berbagai warna dengan diperindah pernak-pernik natal. Mataku tidak sekalipun berkedip melihatnya. “How so wonderful” gumamku dalam hati.
Saat pengakuan iman rasuli, seperti biasa semua jemaat berdiri. Tak sengaja mataku dan mata dia bertabrakan. Cukup lama kami saling memandang satu sama lain. Dengan mengenakan kemeja berwarna merah marun dibalut dasi berwarna gelap, dia begitu berwibawa dan berkarisma. He’s so handsome. Naara menepuk pundakku mengingatkan. Naara pikir aku sedang melamun.
Ibadah pun usai. Saat hendak keluar gereja, tiba-tiba kakiku kram. Seluruh tubuhku membeku. “Aaww! “ aku merintih kesakitan. Aku memegang erat tangan Naara yang sedang berusaha menopang tubuhku berdiri. “Makasih Naa…” bibirku berhenti mengeluarkan kata-kata saat aku tahu bukan Naara yang menolongku. Iya, dia si pemain piano itu. Aku tak menyangka. Dia tersenyum ramah. “Maaf Re, aku bantuin ibu hamil tadi” kata Naara meminta maaf. Tangannya masih menopang tubuhku. “Kebetulan aku lewat dan tiba-tiba dia terjatuh” sambung si pemain piano menjelaskan alasan dia memegangku. “Makasih” balas Naara sembari berusaha menopangku darinya. Aku masih tertegun menatapnya. Dia seperti malaikat.
“Namaku Yoas Eleazar. Aku pemain piano di gereja ini” sambil menyalam aku dan Naara.
“Naara Asriel”.
“Refaya Eliezer”.
“Haha (tertawa) nama kita hampir mirip. Eleazar dan Eliezer. Senang berkenalan dengan kalian. Selamat hari minggu” sambung Yoas.
Setelah insiden itu, aku selalu terbayang Yoas. Hingga suatu mujizat terjadi. Yoas satu sekolah denganku. Yesss! Bahkan satu kelas. Thanks God. Ternyata Yoas baru pindah.
***
Plaaakkk.
Tubuhku tersungkur tak berdaya di taman. Semua siswa berkerumunan mengelilingiku. Aku tidak sadarkan diri. Tapi aku merasa seseorang sedang mengangkat tubuhku. Mati rasa.
Aku sering mengalami seluruh tubuhku mati rasa seperti membeku. Sudah setahun lebih. Aku menganggap ini hal biasa sehingga aku tidak memberitahukan kedua orangtuaku. Hanya Naara yang tahu, sahabat karibku.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak tidur sepulas ini sejak hal aneh itu menimpa diriku. Naara dan Yoas menemaniku. Wajah mereka kelihatan lelah dan juga kelihatan begitu sedih. “H..ha..hai” sapaku. Mereka tersenyum. Senyuman terpaksa yang mereka berikan. Dokter Noha, Ibu Hilkia, wali kelasku, dan kedua orangtuaku masuk. Aku menangkap ada sinyal tidak mengenakkan dari mimik wajah mereka. “A..da..a..pa ma..pa?” otot disekitar wajahku tidak berfungsi dengan baik sehingga aku kesulitan bicara. Mama menangis sambil memelukku. Rasa penasaranku memuncak, tapi aku benar-benar tidak bisa bicara. Aku berusaha mencari jawabannya dengan menatapi wajah orang-orang yang ada di ruanganku tempatku  dirawat. Nothing. Tidak ada jawaban.
***
Beberapa hari dirawat, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Dokter menyarankanku menggunakan kursi roda untuk waktu yang tidak ditentukan. Mungkin selamanya. Itu kata Dokter Noha. Selama perjalanan pulang, tidak ada seorang pun yang bicara. Sesampainya di rumah, Naara dan Yoas menyambutku. Kamarku yang tadinya di lantai atas, dipindahkan ke bawah. Mereka mengubah bentuk kamarku. Ya, khusus kamar untuk orang yang tidak bisa berjalan.
Sore itu Yoas mengajakku jalan sore di sekitar komplek perumahan. Banyak yang Yoas ceritakan tentang kehidupannya, tapi aku menghiraukannya. Aku masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi denganku. Tanganku menghentikan roda kursi rodaku.
“Ada apa Re?” tanya Yoas panik.
“To..long..ju..ju..rr..a..pa..ya..ng..se..be..na..rr..nya..ter..ja..di..” jawabku berusaha bicara.
“Aku tidak tahu, Re. Biarlah orangtuamu yang menjelaskannya” sambung Yoas sambil mengelus-elus rambut hitamku.
***
Siang itu rumah tak berpenghuni. Tidak ada aktivitas. Dengan alat pengontrol kursi roda yang ada disebelah kanan, aku berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Semakin hari aku semakin tersiksa dengan keadaanku. Aktivitasku mulai terbatasi. Dokter Noha menyarankanku untuk tidak sekolah selama sebulan dan aku harus menjalani terapi dan pengobatan lainnya. Saat hendak ke dapur, aku melihat sebuah amplop di meja yang berada persis dekat kamar orangtuaku. Aku mendekat dan membaca isi amplop putih itu.

DUAARRR. Ledakan bom Hirosima-Nagasaki seakan bergema di telingaku. Aku shock bukan main. Dalam surat itu aku divonis mengidap penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Aku tahu kalau penyakit ALS ini adalah kelumpuhan otot secara tiba-tiba, terutama pada lengan dan kaki serta akan mempengaruhi kemampuan berbicara, menelan hingga bernafas. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya.
***
Sejak Yoas tahu aku mengidap penyakit langka, ALS, hubungan kami semakin dekat. Yoas mengajariku bermain piano di gereja. Yoas sangat perhatian dan peduli denganku. Setiap hari Yoas bermain piano untukku. Pernah dalam hati aku bertekad hidup karena Yoas. Dengan sabar dan setia Yoas membantuku menjalani terapi. Perutku sudah penuh dengan obat. Aku muak minum obat pahit dan bau itu.
Di sekolah pun, teman-teman memperlakukanku dengan sangat baik. Aku memang dikenal sebagai siswa yang baik dan pintar. Aku suka berbagi. Banyak prestasi yang kuberikan untuk sekolah. Hingga suatu hari semua siswa di sekolah serentak melakukan ice bucket challenge. Mereka desikasikan itu untukku dan orang-orang yang mengidap ALS di seluruh dunia.
Terkadang teman-teman melihatku dengan rasa penuh belas kasihan. Aku benci cara mereka melihatku. Aku pun semakin benci dengan keadaanku hingga aku tidak mau lagi menjalani terapi dan minum obat. Keadaanku semakin memburuk hingga akhirnya masuk ICU. Dan tidak sadarkan diri.
***
Setiap hari teman-temanku datang menjenguk. Tapi aku tidak tahu karena aku masih koma saat itu. Kubuka mataku yang sudah lama tertutup. Ruangan putih. Benda-benda aneh menempel di tubuhku. Yoas sedang tertidur disampingku. Aku mengelus-elus rambutnya dan ia terbangun. “Hei. Kamu sudah bangun rupanya. Sepertinya tidurmu sangat nyenyak” kata Yoas sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum. Aku melihat sekelilingku dipenuhi hadiah. Aku menunjuk kearah hadiah itu. “Oh…itu dari teman-teman kita. Mereka datang menjengukmu dan membawakan hadiah natal ini” jawab Yoah. Ternyata aku sudah koma selama hampir setahun. Aku pikir siapa pun pasti tidak akan percaya ini. Semua orang bahagia aku telah sadar dari koma.

Sore itu bunga-bunga di rumah sakit mekar. Yoas tahu aku sangat menyukai bunga. Selama aku koma, Yoas selalu membawakanku bunga. Naara bilang kalau Yoas selalu setia menjagaku.  “Sebentar lagi natal, Re. Apa harapanmu?” tanya Yoas mengawali pembicaraan di sore yang begitu indah.
Aku tersenyum, lalu menjawab dengan suara serak,”aku selalu berjuang untuk hidup hingga aku lupa menikmati hidupku. Aku mau menikah denganmu”. Yoas terdiam. Lalu memelukku erat. “Aku tahu kamu akan mengatakannya, Re. Aku tahu kamu suka pernikahan dan aku tahu kamu juga menyukaiku sejak pertama kita bertemu. Aku bahagia bila menikah denganmu, Re” kata Yoas masih memeluk dan mencium keningku. Pelukannya begitu hangat dan nyaman.
***
Orangtua kami setuju dengan rencana pernikahan kami. Dokter Noha mengatakan kesehatanku semakin membaik. Semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan kami, termasuk aku. Siang yang begitu terik, Naara menemaniku fitting gaun pengantin. Setelah itu, bersama Yoas memesan kue pernikahan serta keperluan lainnya. Kelelahan menyiapkan segala sesuatunya, saat berjalan menuju restoran tiba-tiba otot tubuhku tidak berfungsi. Aku pun terjatuh. Yoas yang berada tepat disampingku dengan sigap menangkap tubuhku yang hampir tergeletak di trotoar. Aku kembali masuk ICU.
Keadaanku semakin memburuk. Setiap malam aku merintih kesakitan. Dokter Noha memvonis umurku tidak panjang lagi. Mungkin tinggal menghitung hari.
***
5 hari koma…
“Ma…” kataku dengan setengah sadar.
“Iya, sayang, mama disini” jawab mama menangis sambil memegang erat tanganku.
“Aku mau pernikahanku seperti putri dongeng” kataku dengan mata masih tertutup.
 “Iya, sayang. Mama sudah menyiapkan semuanya. Kamu cepat sembuh ya” balas mama.
Walaupun kesehatanku memburuk, aku meminta Dokter Noha mengijinkanku untuk melangsungkan pernikahan. Dengan terpaksa, akhirnya Dokter Noha mengijinkanku dengan syarat hanya dua jam saja karena tubuhku benar-benar lemah tanpa peralatan medis.
Tepat di hari natal, pernikahanku dengan Yoas dilangsungkan. Aku dan Yoas berjalan menuju altar dimana pendeta telah berdiri menyambut kami. Dengan mengenakan gaun pengantin serba putih dengan lace rapat di bagian bahu, dada dan pinggang. Bagian bawah gaun ringan hingga memberikan kesan feminim. Ditambah dengan selayar panjang dan kerudung pernikahan dikepala semakin memperindah diriku. Diiringi lagu A Thousand Years, jemaat yang datang menyambut dan mengundang kedatangan kami. Setelah mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan dan sah menjadi suami-istri, selanjutnya dilakukan peneguhan dan disambung dengan ucapan selamat dari keluarga dan juga teman-teman. Ritual pernikahan kami berjalan hikmat dan sakral.


"Selamat natal istriku". Yoas mencium bibirku. Semua orang bersorak gembira. "Merry christmas and happy wedding Refa-Yoas" teriak mereka serentak. Semuanya sangat bahagia dan bersukacita. "Kamu pengantin tercantik di dunia" kata Yoas menggodaku sembari memelukku erat. "A...ku menya...yangi...mu..." Tiiiiiitttttttt. "Refa. Refaya. Bangun Re. Banguuunn. Refa. REFAAAA!!!" 
-  The end -


Rabu, 10 Desember 2014

cerpenku 13

Pupus…



Pagi ini mendung. Mengundangku untuk melanjut kembali tidur panjang yang kurasa masih kurang. Menghela napas panjang berusaha untuk mengumpulkan roh-roh diriku yang berkelana entah kemana. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul enam pagi. Seperti biasa, aktivitas pun dimulai. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap berangkat ke sekolah. Ya… Aku Sayra siswa kelas sembilan satu.

Setibanya di sekolah, aku disambut ceria teman dekatku. Mereka adalah Yuzee, Vira dan Noel. Kami dikenal sebagai siswa yang sombong di sekolah. Kami lahir dari keluarga yang memiliki pengaruh besar di kota ini. Keluargaku pengusaha, papa Yuzee seorang Bupati, Mama Vira kepala sekolah kami dan kedua orangtua Noel adalah politikus.

Kami dimanjakan oleh uang. Kami selalu nongkrong di cafĂ© atau restoran mahal. Belanja semau yang kami inginkan, tidak peduli berapa nominal uang yang kami buang.  Di sekolah, tidak ada siswa yang menyukai kami. Kami suka membuat onar dan keributan. Tidak ada seorang pun yang bisa melarang kami melakukan ini dan itu.

Pagi itu, kami kedatangan siswa baru dari kota lain. Dia memiliki lesum pipi sebelah kanan dan memiliki mata coklat yang indah. Pada pandangan pertama aku terpesona dengannya. Senyumannya mampu meluluhkan seluruh tubuhku hingga tak berdaya.
“Aku Cleo. Aku baru saja pindah dari Jakarta. Senang berkenalan dengan teman-teman” katanya manis dengan memberi senyuman terbaiknya.
“Oh… Cleo” ucapku dalam hati sambil terus memandanginya.
Aku menyuruh Noel untuk pindah ke belakang agar Cleo duduk disampingku. Dengan kedipan mata, Noel beranjak duduk ke belakang. Memang saat itu semua siswa sudah punya teman satu meja, dan teman yang dibelakangku kebetulan cuma sendiri. Tak ada pilihan, Cleo pun melangkahkan kakinya ke arah kursi kosong di sebelahku. Dag dig dug. Detak jantungku semakin cepat. Aku jadi salah tingkah. Aku berusaha bersikap normal dengan melempar senyum balasan untuk Cleo. Sejak saat itu, aku, Yuzee, Vira, Noel dan Cleo menjadi akrab. Arah jalan rumah kami pun searah. Cleo sering menjemputku saat pergi sekolah. Jarak rumah kami tidak jauh, jadi Cleo sering mengajakku belajar bersama di rumah. Orangtuaku menyukainya karna Cleo ramah dan pintar. Entah kenapa perasaan ini pun tumbuh. Belajar, nongkrong, bermain hingga berangkat sekolah kami lakukan bersama. Semakin kami sering bersama, perasaan ini pun semakin tumbuh dan tumbuh. Hingga akhirnya aku mengenal cinta.

Bel waktu istirahat berbunyi. Para siswa berebut keluar. Aku hanya duduk sambil mencoret-coret buku. Aku kesal melihat Cleo bersama Yuzee. Aku merasa pernapasanku seperti ada yang menekan hingga aku sulit bernapas. Ya, menurutku aku cemburu. Huffh. Mendesah sembari merebahkan kepalaku diatas meja lalu memejamkan mata.

Tidak tahan menahan rasa ini, aku pun menceritakannya pada Noel dan Vira. Mereka terkejut. Keningku mengerut. Ternyata Yuzee pun menyukai Cleo. Tubuhku lemas. “Sahabatku juga menyukainya” kataku dalam hati. Vira dan Noel menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan ini. Tapi aku takut. Aku takut ditolak.

Pukul Sembilan malam, kami masih belajar. Aku melihat Cleo begitu senang dan semangat. Beda dari hari biasanya.
“Hari ini kau kelihatan tampak senang sekali. Mengapa kau tidak berbagi kesenanganmu denganku?” tanyaku mengawali pembicaraan.
“Tidak ada yang perlu kubagi denganmu. Aku biasa saja” balasnya.
“Ada yang mau kutanyakan denganmu” sambungku dengan nada sedikit tinggi.
“Katakanlah” balasnya sambil membaca buku.
“Apa yang akan kau lakukan bila teman dekatmu ternyata menyukaimu?” lanjutku lagi.
“Hmm… (berpikir sejenak) Kalau aku sudah menganggapnya teman tapi ternyata ia menyukaiku, jujur aku tidak suka. Teman tetaplah teman. Beberapa teman perempuanku mengaku bahwa mereka menyukaiku, tapi setelah itu aku menjauhi mereka” jawabnya sambil menatap tajam ke dalam mataku.
Aku tersentak. Seolah petir menyambar tubuhku. Aku sudah dapat jawabannya.
“Kenapa kau menanyakan itu Say? Apakah kau sama seperti mereka? Menyukaiku juga?” Tanya Cleo seolah sedang mengintrogasiku.
“Ah tidak. Aku sudah menganggapmu sebagai teman dan saudara” jawabku bohong.
“Oh, syukurlah. Kupikir pertemanan kita ini akan berakhir” jawab Cleo ketus.
Aku menarik napas panjang. Mencoba mencari oksigen dalam ruangan yang penuh kesesakan.


Setelah pembicaraan malam itu, hubunganku dengan Cleo tidak sebaik dulu. Aku jaga jarak dengannya. Mencoba mengubur perasaan ini.