Selasa, 05 September 2017

Cerpen 16



JANJI Part II


6 tahun 7 bulan 3 hari kemudian…
            Langkah gontai kaki melangkah dengan cepat melewati kerumunan orang banyak. Memakai boots tinggi dan stoking serta mengenakan jaket tebal dan syal. Udara di Ginza sangat dingin. Di tempat ini terdapat berbagai toko serba ada, butik, restoran dan kafe. Ginza dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di dunia. Toko-toko utama dari merek busana elite berada di sini, Hancur oleh pemboman saat perang dunia kedua, perekonomian Ginza mulai bangkit kembali dengan ditandai munculnya papan iklan neon yang berwarna-warni. Saat acara car free day berlangsung, jalan-jalan kecil menuju jalan utama Ginza diblokir sehingga Icha harus mencari jalan lain. Di tengah jalan diletakkan bangku-bangku sehingga warga bisa duduk dan menonton. Disebrang jalan sang ayah menunggu Icha sambil menikmati secangkir kopi hasil racikan barista kelas dunia.
            “Hi dad. I’m sorry I late. Can  we go now?”kata Icha dengan napas terengah-engah.
            “Yes, of course honey.” Jawab sang ayah santai sambil meletakkan koran yang dibacanya.
            Setelah mengelilingi beberapa toko butik di Ginza selama hampir dua jam, mobil BMW MINI berwarna merah itu pun melaju menuju Harajuku. Harajuku merupakan trend setter fashion untuk kawula muda. Berbeda dengan Ginza yang menjadi fashion mecca untuk fashion lover yang lebih dewasa. Daerah ini terkenal sebagai tempat terpusatnya fashion house dunia seperti Gucci, Hublot, Louboutin dan merk populer seperti Uniqlo.
Ayah tidak ikut menemani Icha belanja karena baginya membaca koran itu lebih baik daripada menemani putri semata wayangnya itu belanja. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk berbelanja pakaian yang dicarinya karena di Harajuku everything’s complete for her. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore dan Icha bergegas menuruni lantai tiga dengan langkah kaki terburu-buru. Tidak ingin ketinggalan pesawat, Icha belanja seadanya saja.
“Dad, maybe we can go now to airport. I have been get what I want. I don't wanna coming late.” Teriak Icha menuju mobil.
“Ok honey.” Jawab ayah sambil menyeruput tetes kopi terakhirnya.
Mobil pun melaju meninggalkan Harajuku menuju Bandara Internasional Haneda. Ibu dan beberapa sanak saudara sudah menunggu Icha di bandara. Mereka tersenyum menyambut kehadiran wanita berambut halus lurus, berkulit putih dengan bibir tipis dan sebagian besar ruas gigi atas lebih ke depan. Dengan setengah berlari Icha menghampiri ibu dan sanak saudaranya. Ayah membawa barang bawaan yang akan digunakan Icha selama di Indonesia. Dua puluh menit lagi pesawat Icha akan terbang bebas ke Indonesia.
“Dad, mom and all of you, I will go to Indonesia for a long time. I pray I hope my college goes well and get back here so on. I will miss you all. I love you. See you” Icha pamit kepada keluarganya sebelum masuk ke ruangan yang akan mengantarnya ke pesawat. Tidak berapa lama pesawat yang dinaikinya melaju bebas di atas langit.
***
Mesak, Kriwil dan Ucok sibuk membantu Mimin merapikan kos barunya. Impian mereka satu universitas pun terkabulkan. Mesti tidak satu jurusan, bagi mereka kuliah ditempat yang sama adalah hal yang sangat menyenangkan. Mesak dan Ucok lulus dijurusan ilmu kesejahteraan sosial, sedangkan Kriwil dan Mimin berada di jurusan manajemen. Mereka tidak satu fakultas, namun fakultas mereka sangat dekat. Dekat sekali. Cukup satu kali langkah saja sudah sampai di fakultasnya Mesak dan Ucok. Dekat sekali, bukan? Hahaha.
Butuh tenaga dan otak yang cukup untuk masuk ke universitas negeri favorit empat sekawan ini. Dari malam hingga pagi belajar dan hanya belajar yang mereka lakukan saat hari ujian SNMPTN mendekat. Badan kurus dan wajah pucat yang mereka dapat tidak sebanding dengan lulusnya mereka ke universitas negeri yang telah lama mereka idam-idamkan.
“Udah bersihkan?” Tanya Ucok dengan khas logat bataknya.
“Sudah. Sudah.” Jawab ketiga temannya dengan meniru logat batak kental milik Ucok.
Mereka pun tertawa senang. Wanita seorang menjadikan Mimin idola diantara teman-temannya. Mimin selalu menjadi prioritas utama yang harus mereka jaga dan lindungi. Tidak salah bila Mimin bahagia menjadi pusat perhatian ketiga teman prianya itu. Wanita mana pun itu pasti iri bila melihat Mimin dikelilingi laki-laki baik serta perhatian seperti Mesak, Ucok dan Kriwil. Perlengkapan kuliah hingga masalah kos-kosan sudah beres. It’s time to rested.
***
Butuh waktu sembilan hingga sepuluh jam sampai ke Jakarta. Perjalanan yang melelahkan ini terakhir kali dilakukannya tujuh tahun yang lalu. “Finally…” desah Icha. Tak berapa lama pesawat pun lepas landas menuju Bandara Kualanamu yang berada di Deli Serdang menggantikan Bandara Polonia yang di Medan.
Kurang lebih dua jam, akhirnya pesawat garuda mendarat di bandara internasional tersebut. Namun perjalanan Icha belum berakhir sampai disini. Icha harus menempuh tiga hingga empat jam perjalanan untuk menemui sang kakek yang saat ini sendiri di rumah sejak neneknya meninggal dua tahun yang lalu.
Yupp!!! Dalam sehari harus terbang dari Tokyo-Jakarta, Jakarta-Deli Serdang, Deli Serdang-Perdagangan, tanpa ada waktu istirahat. Icha berharap bisa menyelesaikan petualangannya hari ini lalu tidur sepuasnya.
Mendengarkan musik adalah satu hal yang bisa menghilangkan rasa bosan. Ditemani Tablet Apple iPad Air WiFi, Icha mengup-date status di jejaring sosial, facebook miliknya.
“My trip is very tiring. On the way to the city of memories, Perdagangan City. I so miss my grand pa and my friends.”
***
Mendapat kabar dari kampung bahwa Icha sudah kembali. Empat sekawan senang sekali mengetahuinya. Dan kabarnya Icha kuliah di universitas yang sama dengan mereka. Dua hari lagi Icha akan berangkat ke Medan untuk mendaftar dan mempersiapkan segala sesuatunya.
2 hari kemudian…
            Mesak dan Ucok menjemput Icha di loket taksi. Perubahan besar pada fisik mereka lupa akan sosok satu sama lain. Icha tidak menyangka bila teman-teman kecilnya itu tumbuh menjadi laki-laki tampan dan sangat mengagumkan. Icha terkesima saat melihat mereka dewasa.
            Kedatangan Icha menambah daftar orang yang harus dijaga, dilindungi serta diperhatikan. Sang kakek menitipkan Icha kepada empat sekawan untuk dijaga. Mimin dan Icha berada di kos yang sama namun kamar mereka bersebelahan.
            Aktivitas kuliah pun siap menyibukkan waktu Icha, Mimin, Mesakh, Ucok dan Kriwil. Setiap harinya mereka meluangkan waktu belajar dan ngumpul bersama di perpustakaan sembari menikmati fasilitas wifi yang disediakan. Mulai dari ayam penyet, nasi goreng, bakso, teh manis, nutri sari dingin, dan menu makanan lainnya terhidangkan di meja milik mereka. Heboh dan ramai. Kata yang bisa menggambarkan situasi lima sekawan ini bila saat bersama.
            Icha punya banyak waktu menghabiskan kebersamaan dengan empat sekawan sembari menyelesaikan kuliah. Hampir sepanjang waktu Icha lewati dengan empat sekawan. Meskipun sesekali terjadi adu argumen bahkan salah paham hingga menimbulkan slek adalah hal wajar yang dialami dalam pertemanan. Dan Icha memakluminya. Walaupun setiap harinya dilalui bersama, Icha dan empat sekawan tidak memiliki yang namanya “cinta” diantara mereka selain kasih sayang sebagai saudara. Hingga akhirnya Icha dan empat sekawan menemukan pasangan dari jurusan dan fakultas yang berbeda. Ssttt… boleh dibilang mereka tidak lagi berlima tapi bersepuluh. Hahaaha.
“The End”