Sabtu, 29 Maret 2014

cerpenku 4

Aku, Kamu & Dia
Oleh Indah Simanjuntak
“Lo, gue, end!” teriakku di birthday party Lena sahabatku. Aku mengacaukan acara ultahnya karna kuputuskan hubunganku yang sudah 4 tahun kujalani dengan Diko. Aku ngga tahan lagi dengan semua kebohongan Diko dan Lena yang selama ini disembunyikan dariku. Ternyata diam-diam Diko ingin memutuskanku di acara birthday partynya Lena. Aku tau hal ini karna Rasya yang memberitahuku. Aku ngga bisa bayangkan dimana perasaan Lena saat selingkuh dengan pacar sahabatnya sendiri. Malam itu jadi malam kelam buatku. Aku putus dengan Diko karna dia selingkuh sama sahabatku sendiri. Hatiku tercabik-cabik. Bahkan disaat aku memutuskan Diko, disaat itu pula Diko meresmikan hubungannya dengan Lena. Secara spontan aku menampar Diko di depan banyak undangan yang merupakan teman sekolah kami. Plaaakkkkkk! Tamparanku tak sebanding dengan rasa sakit yang mereka goreskan dihatiku. “Sakit! Sakit banget!” teriakku dalam hati.
            Setelah malam itu, aku ngga semeja lagi dengan Lena. Lena pindah ke belakang bertukar posisi dengan Rasya. Lena tidak pernah minta maaf padaku, bahkan dia mencuekiku di kelas. Hatiku semakin tercabik-cabik saat aku melihat Lena dan Diko makan bareng di kantin, pulang pergi sekolah selalu sama dan bahkan mereka tak segan-segan bermesraan di hadapanku. Mereka tidak peduli dengan perasaanku. “Help me God please” bisikku dalam hati. Teman-temanku sangat simpati padaku. Mereka menyebut Lena dan Diko sebagai pengkhianat, tapi aku tidak pernah membenci mereka karna aku sudah memaafkan kesalahan mereka. Aku berharap ini sakit hati yang pertama dan terakhir untukku.
            Saat mencari buku paket akutansi di rak bukuku, tidak sengaja 2 foto jatuh dari dalamnya. Foto saat aku dan Diko sedang berlibur di Borobudur. Diko memelukku sangat mesra saat itu. Lalu foto berikutnya saat aku berulang tahun. Diko mencium keningku di hadapan kedua orang tuaku dan juga teman-temanku. Tiba-tiba aku teringat lagi dengan semua kenanganku dengan Diko. Aku pun termenung mengingat semua memori indah itu. Tanpa kusadari ada yang jatuh dari pelupuk mataku. Aku sadar itu semua tinggal kenangan. Kemudian kulihati di sekitar kamarku. Di setiap sudut kamarku ada bayangan Diko. Sulit bagiku  melupakan Diko karna hampir tiap hari aku melihat bayangannya di kamarku. Lalu kumasukkan semua barang-barang yang pernah Diko kasih untukku dalam sebuah kardus kecil. Mulai dari bunga mawar, fotoku dengan Diko, boneka, lampu hias, jam tangan dan surat-surat cinta dari Diko. Supaya aku benar-benar bisa melupakannya, aku pun pindah ke kamar kakakku yang saat ini sedang mengambil S2 di luar negeri.
            Waktu terus berputar dan tanpa terasa hari ini adalah pengumuman kelulusan SMA senasional. Rasya menjemputku dari rumah untuk melihat pengumuman. Setibanya di sekolah, teman-teman pada sibuk memadati mading sekolah yang letaknya ada di koridor. Semua berdesak-desakan ingin melihat namanya di papan kelulusan. Sejauh ini aku tidak melihat teman-temanku ada yang pingsan atau pun menangis sedih karna tidak lulus. Mereka semua terlihat begitu senang, ada yang teriak, tertawa, lari-lari, melompat kegirangan, menangis bahkan saking senangnya ada temanku yang menyalami orang-orang yang saat itu tengah lewat di depan sekolah. Aku tertawa melihat ekspresi mereka. Saat mading mulai sepi, giliranku melihatnya. Hari itu mulai sore. Telunjuk tangan kananku mulai menelusuri kertas demi kertas untuk mencari namaku. Tanganku berhenti saat mataku membaca nama yang kucari-cari.
No.
NIS
Nama
Keterangan
121
18490 
Andrea Zahara
LULUS
“Yes! Gue lulus” teriakku dalam hati. Aku senang akhirnya aku lulus SMA. Tapi tiba-tiba dadaku terasa sesak saat tanpa sengaja aku melihat Lena memeluk Diko. Ternyata mereka ada di sampingku melihat pengumuman kelulusan juga. Jantungku rasanya mau lepas dari tubuh ini. Aku senang mereka lulus, tapi seharusnya mereka tidak berpelukan di hadapanku. Emosiku mulai naik, entah kenapa pengen rasanya aku berteriak marah pada mereka, tapi karna ini hari terakhir kami bertemu, kuurungkan niatku memarahi mereka. Aku pun mengajak Rasya pulang.
3 tahun 2 bulan kemudian......
Karna gagal masuk perguruan tinggi, akhirnya aku kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jogja. Aku memilih jurusan hubungan internasional karna aku bercita-cita ingin berkelana di negeri orang. Aku sibuk dengan kuliahku hingga aku akhirnya dapat melupakan Diko.
Saat ini aku lagi dekat dengan seniorku. Usia kami sama, hanya saja diusia 4 tahun dia sudah mulai sekolah. Dia sangat baik dan perhatian padaku. Malam ini dia mengajakku nonton bioskop. Kebetulan malam ini launching pemutaran perdana film Breaking Down 2. Aku bingung memakai baju apa malam ini. Entah kenapa aku pengen tampil cantik dihadapannya. Berjam-jam aku membongkar lemari bajuku untuk mencari baju yang cocok buatku. Akhirnya kutemukan juga baju yang pas buat nonton malam ini. Dress hijau polos pilihanku. Aku ingat kalo dress ini pernah aku pake saat Diko menembakku. Tiba-tiba aku teringat lagi padanya. “He's just my past. You must move on Rea” kataku berusaha menyemangati diri sendiri. Rambutku kuikat ala ekor kuda dengan poni menyamping ke kiri. Sebelum aku pergi, aku berkaca untuk memastikan tidak ada yang kurang. “Penampilanku polos banget ya?” pikirku dalam hati. Aku termenung di depan cermin. “Lo udah cantik kok Re. Cantik banget malah” puji Sarah satu kostku. “Lo udah ditungguin tuh sama Manda dari tadi” kata Sarah. Aku kaget ternyata Manda sudah lama menungguku. “Oke. Thanks ya Rah” .
***
“Filmnya bagus banget ya” kataku memecahkan keheningan. Setelah nonton bioskop, aku dan Manda makan di cafe yang tak jauh dari bioskop. “O..oh..ii...iya!” kata Manda terbata-bata. Tingkahnya aneh sekali. Dia kelihatan gugup.
“Lo kenapa?”
“Hah? A...e...gu..gue ngga pa pa kok”.
“Mmm”.
“Rea”.
“Iya?”
Mmm… Lo mau ngga jadi pacar gue?”.
Puurrrrr! Saking shocknya tanpa sengaja aku meyemprotkan minuman dari mulutku  ke wajah Manda. Manda pun terkejut. Dengan cepat kuambil tisu lalu membersihkan wajahnya. Aku membersihkan wajahnya sambil meminta maaf berulang kali. Tiba-tiba Manda memegang tanganku. Jarak wajah kami sangat dekat. Dekat sekali. Bahkan boleh dibilang kami hampir saja berciuman. Tatapannya begitu tajam. Aku merasa ada yang aneh pada diriku saat itu. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang sekali. Terakhir kalinya aku seperti ini saat Diko menciumku di pesta ultahku 3 tahun lalu. Cukup lama kami saling berpandangan saat itu.
“Udah lama gue simpan rasa ini Re. Gue sayang lo. Lo mau ngga jadi pacar gue?” kata Manda sambil menatap mataku tanpa berkedip sedikit pun. Aku gugup. Kuakui selama ini Mandalah yang mengisi hari-hariku hingga sedikit demi sedikit aku bisa melupakan Diko. Jantungku berdetak tiga kali lebih kencang. Bola mataku ngga tau lagi kemana arahnya karna hanya Manda yang ada dihadapanku. Langit malam itu dibanjiri bintang dan galaksi lainnya. Udara semakin dingin kurasa karna dress yang kupake berbahan tipis dan berlengan pendek. Tubuhku serasa ditusuk-tusuk angin malam. Saat aku menjawab “gue mau kok jadi pacar lo”, dari mulutku keluar asap karna dinginnya malam itu. Spontan saja Manda langsung memelukku. Hangat kurasa dalam pelukannya. Belum pernah aku merasakan kehangatan senyaman ini. Tapi badanku sedikit gemetar. Manda tau kalo aku kedinginan, lalu dia membuka jaketnya dan memasangkannya ditubuhku. Dia memelukku kembali. Aku mendengar suara angin bernyanyi merdu malam itu dan bintang-bintang di langit memancarkan sinar terbaiknya. Kulihat bulan tersipu malu bersembunyi di balik awan. Mereka seakan-akan dapat merasakan apa yang kurasakan.
***
            Akhirnya aku bisa menggantikan Diko dihatiku. Manda mulai mengisi kenangan demi kenangan di memoriku. Manda selalu mengantar jemput aku dari kos. Jalan, makan, nonton bahkan sampai mengerjakan tugas pun kami lakukan bersama. Kami banyak menghabiskan waktu di perpustakaan karna hobi kami sama-sama membaca. Saat pulang dari perpustakaan, Manda mengajakku ke rumahnya. Katanya sepupunya dari Jakarta datang dan sedang menunggunya di rumah. Karna jalan pulang searah dengan rumah Manda, jadi mau tidak mau aku harus ikut dia ke rumahnya.
Rumahnya bak istana dalam cerita dongeng. Besar sekali. Tamannya luas dikelilingi bunga-bunga dan pepohonan. Ada lapangan golf, badminton dan futsal juga. Indah sekali. Aku tidak menyangka kalau ternyata Manda anak konglomerat pada hal selama ini aku lihat dia biasa-biasa saja. Manda mengaku padaku siapa dia sebenarnya. Manda punya prinsip hidup “find it and never give up, so you'll can get it”. Bahkan motor kawasaki ZX-10R itu adalah hasil dari tabungannya selama ini. Aku salut padanya. Manda juga tidak sombong dan bersahaja pada semua orang. Beda dengan anak muda jaman sekarang yang taunya hanya menghamburkan dan memamerkan harta orang tua.
            Saat memasuki rumahnya, Manda menggandeng tanganku. Aku merasa jadi perempuan yang paling bahagia saat itu. Manda adalah sosok pria impian bagi kaum hawa dan aku bahagia bisa memiliki cintanya. “Aku harap dia cintaku yang terakhir” kataku dalam hati sambil tersenyum. Namun dalam sekejab senyumanku hilang saat aku berpapasan dengan seorang pria di depan pintu rumahnya Manda. Mataku rasanya mau copot. Sesak kurasa. Kueratkan gandengan tangan Manda. Manda bingung lalu menatapku tapi aku tidak menatapnya karna aku hanya berfokus pada pria yang saat ini ada tepat dihadapanku. “Hai Rea” sapa pria itu. Aku hanya terdiam melihatnya. Aku seperti patung. Aliran darahku berhenti bahkan jantungku pun tak berdetak lagi. “Rea, lo kenapa?” tanya Manda lembut sambil memukul pelan pipi kananku. Aku pun tersadar. “A...a...gu...gue ngga pa pa kok” balasku terbata-bata. “Kenapa aku seperti ini ya saat bertemu dengannya lagi” kataku dalam hati.
“Lo kenal sama Rea, Dik?” tanya Manda.
“Iya. Dia teman SMA gue” jawab Manda sambil melihatku. Aku masih terdiam dengan tangan masih menggandeng Manda. “Oh” kata Manda santai. Manda lalu mengajakku dan Diko masuk ke rumah. Selama di rumah Manda aku tidak banyak bicara, aku kaku saat itu. Sesekali kucuri pandang dengan Diko, Diko pun demikian. Mata kami sering bertabrakan. Karna tidak tahan lagi, aku meminta Manda mengantarku pulang dengan alasan kurang enak badan. Memang saat itu wajahku pucat. Tanpa basa basi Manda pun mengantarku pulang. Tatapan Diko tidak berubah dari dulu sampai sekarang padaku, itu yang membuatku tidak tahan lama-lama didekatnya.
***
            Seminggu setelah aku bertemu lagi dengan Diko, perasaanku galau dan risau. Aku tidak tenang selama Diko masih ada disekitarku. Seperti biasa tiap week end aku mengajak Manda ke toko buku tapi kali ini Manda tidak bisa karna harus menemani papanya ke luar kota mengurus perusahaan keluarga. Akhirnya kuputuskan pergi bersama Sarah. Karna sibuk nyari buku, aku dan Sarah terpisah. Saat aku mencari-cari Sarah, tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Bruukkkk! Kertas-kertas dalam mapnya berserakan dimana-mana. Lalu aku membantunya mengumpuli kertas-kertas itu sambil berulang kali meminta maaf. “Ini” kataku sambil memberikan kertas-kertas itu lalu tersenyum padanya. Saat aku melihat orang itu, senyumanku sirna.
“Alena?” kataku kaget. Alena tersenyum padaku. Tanpa ada angin dan hujan, Lena memelukku lalu menangis sejadinya. “Maafin gue Re. Gue nyesel udah ngerebut Diko dari lo. Maafin gue ya” isak tangis Lena. Aku diam seribu bahasa. “Gue udah maafin lo kok Len” kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Lena menatapku. Rasa penyesalan itu terpancar dari matanya. Lalu kuajak Lena minum di cafe yang ada disamping toko buku itu. Niatku untuk mencari Sarah pun batal tapi aku menelepon Sarah untuk memberitahunya kalau aku bersama temanku di cafe sebelah. Lena menceritakan semuanya padaku. Ternyata setelah lulus SMA, Lena dan Diko putus karna Diko selingkuh dengan sahabat dekatnya Lena. Lena mengaku sudah lama mencariku untuk meminta maaf. Aku tidak menyangka Lena mengalami hal yang sama denganku. Ada kalimat Lena yang membuatku terkejut dan jantungku berdetak cepat sekali. “Sebelum kami putus, Diko bilang ke gue kalo dia sangat mencintai lo Re, alasan dia kemarin nembak gue cuma ingin membalas lo karna udah mutusin dia di ultah gue. Menurut gue itu ngga masuk akal, tapi itu nyakitin hati gue banget Re. Diko jadiin gue pacar hanya untuk pelampiasan doang,  gue nyesel Re” curhat Lena sambil menangis. Aku tidak habis pikir kenapa Diko sanggup melakukan itu pada Lena. Aku kasihan pada Lena. Aku memeluknya. Hari itu mulai gelap. Lena yang udah merasa baikan akhirnya kusuruh pulang. Aku dan Sarah pun kembali ke kos.
            Setelah mendengar pengakuan dari Lena, sikapku biasa-biasa saja. Entah kenapa ada didekat Manda membuatku merasa tenang dan damai. Tapi Manda belum tau tentang hubunganku dengan Diko, aku sengaja tidak memberitahunya karna menurutku itu tidaklah penting. Manda saat ini tengah sibuk mengurus kuliahnya karna tahun ini Manda akan wisuda. Intensitas kami bersama pun berkurang. Aku memberikan ruang buat Manda untuk fokus pada skripsinya. Kesendirianku ini pun dimanfaatkan oleh Diko. Aku tidak tau dari mana Diko dapat nomer hp dan alamat kosku. Diko sering menemuiku di kos, bahkan mengajakku jalan. Aku pun bingung kenapa aku mau menerima ajakannya pada hal aku sudah punya Manda yang baik, perhatian dan sayang padaku. Aku merasa mengkhianati cinta Manda. Manda pernah mengajakku menemaninya mencari bahan skripsinya di perpustakaan tapi aku menolaknya dengan alasan mengerjakan tugas bareng teman pada hal saat itu aku lagi jalan dengan Diko. Itu kesekian kalinya aku bohong pada Manda. “Apa ini artinya gue masih sayang sama Diko” pikirku saat sedang duduk di teras kosku.
            Diko pun mulai menjadi-jadi. Hampir tiap hari dia mengajakku. Sedikit demi sedikit aku mulai mencueki Manda. Lalu Lena mengingatkanku pada apa yang pernah Diko lakukan dulu padaku. Sejak kejadian di toko buku itu, aku dan Lena menjadi akrab kembali seperti saat kami SMA dulu. “Lo ngga boleh terus-terusan kayak gini Re. Lo bilang lo punya Manda yang tulus menyayangi lo. Dia butuh lo ada disampingnya buat ngasih dia semangat nyelesain kuliahnya” kata Lena mengingatkanku. Aku sadar aku sudah sering membohonginya. Aku pun menangis. “Ternyata aku juga pengkhianat” kataku dalam hati. Besoknya kuputuskan untuk menemui Manda dan jujur padanya.
            “Gue tunggu di kantin perpus jam 2 J” isi BBMku buat Manda. Sambil menunggu jam 2, aku baca-baca. Tidak terasa jam di kantin menunjukkan jam 2 tepat. Aku melihat Manda dikejauhan sedang mencariku. Aku melambaikan tangan, Manda melihatku lalu menghampiriku. Muka Manda kelihatan lelah dan badannya mulai kurus karna belakangan ini dia sering begadang. Aku memesan orange juice minuman kesukaan Manda. Kuberanikan diri buat jujur padanya karna aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Aku baru sadar ternyata aku sangat mencintai Manda. Dipikiranku saat ini hanya ada Manda, Manda dan Manda. Dengan sedikit kaku kuceritakan semuanya pada Manda. Mulai dari hubunganku dengan Diko, alasanku sering menolak ajakannya serta curhatan isi hatiku padanya. Aku takut Manda memutuskanku karna saat itu Manda kelihatan marah dan kecewa padaku. Manda beranjak dari kursinya lalu berdiri dihadapanku. Perasaan takutku pun mulai menjadi-jadi. Aku pasrah apa pun yang terjadi. Tiba-tiba Manda memelukku. Erat sekali. Lalu berbisik ditelingaku, “Lo tau gue sayang banget sama lo, gue sakit hati saat lo bilang kalo lo sering jalan sama Diko sampe-sampe lo bohong sama gue. Tapi gue hargai kejujuran lo buat ngakuinnya. Makasih. Gue sayang lo sampe kapan pun Re”. Setelah mendengar itu, aku pun bisa bernapas lega dan aku bahagia karna Manda mau nerima kejujuranku. “Makasih. Gue janji ngga akan ngulanginya lagi. Gue sayang lo banget” balasku.
Bunga-bunga cinta diantara kami kembali mekar dengan warna yang jauh lebih indah. Rumput hijau pun menari-nari. Burung-burung di langit bersorak-sorai. Karya Tuhan yang sungguh luar biasa.
Kemarin sore di taman kota...

“Maafin gue Dik, gue ngga bisa nerima cinta lo lagi. Gue sayang banget ama Manda dan gue ngga mau kehilangan dia. Dia kebahagiaan gue. Biarkan gue bahagia bersama Manda. Please?” kataku setelah Diko mengungkapkan perasaannya. Sekian J

Selasa, 25 Maret 2014

cerpenku 3

20 Maret
oleh : Indah Simanjuntak

Seharian melakukan aktivitas diluar kos begitu sangat melelahkan bagiku. Pergi pagi pulang malam. Sampai di kos menuju kamar lalu menjatuhkan tubuhku yang lelah ini diatas kasur yang selalu memberi kenyaman buatku. Dalam sekejab kedua mata ini tertutup rapat dan aku pun tertidur pulas.
Namun pagi ini aku kesal sekali karena suara burung  mesin itu mengganggu tidurku. Tidakkah ia tahu betapa lelahnya diriku ini sehingga harus memaksaku bangun di jam yang seharusnya aku masih tidur.
Aakkkh!!!
Desahku kesal.
            Entah kenapa burung mesin itu belakangan ini sering sekali terbang bebas di langit di daerah sekitar kosku. Suaranya memekakan telinga siapa pun yang mendengarnya. Aku selalu bertanya-tanya apakah burung mesin itu muncul karena pesawat Malaysia Air Lines MH370 raib bak ditelan bumi? Atau pelatihan militer angkatan udara?
Entahlah!
Aku memang mulai jarang membaca koran atau pun menonton berita sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi dengan langit di Medan ini.
***
            Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku ingat kalau hari ini jam sepuluh aku dan teman-temanku akan menjumpai dosen pembimbing untuk meminta tanda tangannya sebagai syarat mengambil kartu hasil studi. Aku mencari sesuatu itu ditumpukan kertas-kertas. Tak berapa lama akhirnya aku menemukannya. Sebuah kertas berisi angka dan huruf yang tersusun rapi di hasil studi semester limaku.
“Thanks god.” Ucapku bersyukur.
            Aku pun bersiap-siap berangkat ke kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kosku. Membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit sampai di kampus. Seperti biasa aku membawa netbook kesayanganku untuk menemaniku menunggu teman-teman yang lain datang sembari menikmati wifi kampus.
            Janji jam sepuluh tapi telat juga. Kami pun menuju ruangan dosen pembimbing, tapi pintunya tertutup dengan gembok.
Aihh!
Kalimat yang selalu kuucapkan disaat aku kecewa.
Seorang temanku lewat dan memberitahu informasi kalau pengambilan kartu hasil studi tidak memerlukan tanda tangan dosen pembimbing.
“Ah syukurlah” kataku senang.
***
Menunggu kuliah jam setengah satu tidak membuatku bosan karena aku masih ditemani oleh netbookku.
Jam dua sudah lewat tapi dosennya belum juga menampakkan batang hidungnya. Kami  duduk berderetan di koridor menunggu sang dosen datang. Lewat dua puluh menit kami sepakat pulang karena sang dosen tidak muncul-muncul juga. Tidak ada penyesalan bagiku karena aku memang berharap si dosen tidak datang.
Tanpa terasa netbookku tiba-tiba mati pada hal aku masih mendownload video dan lagu.
Aihh!
Ucapku geram.
Kalau netbookku sudah mati aku pasti pulang karna tujuanku ke kampus paling utama menikmati wifi, tujuan yang kedua, ya… kuliahlah!
Sesampainya di kos aku langsung mencharger netbookku lalu menonton dan mendengarkan hasil downloadku di kampus tadi.
***
Agendaku hari ini rapat panitia jam tiga di rumah salah satu anggota. Menunggu jam tiga aku tidur-tiduran di kasurku. Hanya tertidur sekitar sepuluh menit membuatku pusing. Aku terbangun karna nada pesan handphoneku berdering. Aku mendapat pesan singkat dari sekretarisku mengajak rapat panitia. Lewat pesan singkat itu kami sepakat bertemu di warung buah.
Aku merasa duniaku tidak pernah berhenti berputar, namun aku menikmati masa-masa kesibukanku saat ini.
Sesampainya di warung buah kami tidak langsung pergi rapat panitia. Kami masih mengobrol sambil membeli beberapa jajanan sebagai pengganjal makan siang. Seperti inilah dunia anak kos, malas makan dan kebanyakan jajan. Sekretarisku sibuk main game dengan sony experianya, aku malah sibuk melihati orang-orang lalu lalang di depanku.
Suara burung mesin itu muncul lagi di langit dengan sangat berisik. Aku hanya memandanginya dengan perasaan kesal mengingat tadi pagi ia mengganggu jam tidurku.
Dari kejauhan aku melihat pengurusku dan beberapa anggota berjalan. Dengan cepat aku melambaikan tangan sambil berteriak memanggil mereka. Mereka mau makan siang di warung sebelah setelah itu pergi rapat panitia. Kami janji bertemu di rapat panitia.
Susah juga ya untuk on time. Jam rapat molor selama dua jam karna para panitia lari kesana dan kesini. Walau pun sudah mahasiswa tapi sulit sekali mengatur mereka. Aku hanya menikmati tingkah-tingkah lucu mereka saja.
Berjalan selama kurang lebih empat jam rapat panitia pun ditutup dengan doa. Banyak hal yang dibahas, belum lagi komentar atau pun masukan dari sterring committee. Membosankan memang tapi sebagai ketua aku harus mengikuti rapat ini dari awal hingga selesai. Dan ternyata aku baru ingat kalau aku belum ada makan seharian ini, pada hal aktivitasku penuh.
***
Dia tidak tahu betapa lelahnya aku hari ini. Hal kecil pun dibuatnya menjadi besar. Adu mulut lewat telepon memang sering terjadi. Nada suaraku meledak-ledak karena masalah modem itu lagi yang dibahasnya. Aku bosan. Tidak ada pengertian.
Yaa…
Dia adalah pacarku.
Dua hari tidak komunikasi karena masalah modem. Dan malam ini dia meneleponku hanya ingin menanyakan kabar modemku. Aku jadi berpikir, apakah dia pacaran denganku? Atau dengan modemku?
Entahlah!
Tanya saja pada rumput yang bergoyang.
Dan malam ini kuakhiri dengan mood kesal tingkat dewa.


Bersambung…

Penelaah Alkitab

MANUSIA, DOSA DAN KESELAMATAN
Selasa, 25 maret 2014

1.   Seperti Mentega Dengan Roti

Kau temanku
ku temanmu
Kita selalu bersama
Seperti mentega dengan roti
Kau temanku
ku temanmu
Kita selalu bersama
S’perti celana dengan baju
Reef :
Ku akan selalu mendukungmu
Mendorongmu terus maju
Dan bila kau sedih
Ku akan memelukmu dengan kasih


2. Kecaplah dan lihatlah

kecaplah dan lihatlah
Betapa baiknya Tuhan itu
Rasakan dan nikmati kasih   2x 
setia Tuhan
Kasih setia Tuhan


  reef :S’yukur bagiMu Tuhan
      S’gala hormat bagiMu
Tuhan                 
      Allah yang mengasihiku
      Allah yg mem’liharaku
      Selamanya




3. Nyanyi Dan Bersoraklah
Yesusku Penyelamatku
Tiada Yang S'perti Engkau
Setiap Hari 
Ku Memuji
Keajaiban Kasihmu 

Penghibur, Pelindung
Menara Kekuatan
Biarlah Semua Yang Bernafas
Tak Berhenti Menyembahmu 

Reff:
Nyanyi Dan Bersoraklah Bagi Dia
Pujian Hormat Kuasa Bagi Raja
Gunung Tunduk Laut Bergelora
Mendengar Namamu 

Ku Bersuka Atas Perbuatanmu
S'lamanya Ku Kasihi Engkau Tuhan
Tiada Janji S'perti Yang Ada Padamu 

4. “Jangan Lelah”
Jangan lelah bekerja diladangNya Tuhan
Roh Kudus yang b’ri kekuatan
Yang mengajar dan menopang
Tiada lelah bekerja bersamaMu Tuhan
Yang selalu mencukupkan akan
segalanya.

Reef :
Ratakan tanah bergelombang
          Timbunlah tanah yang berlobang
          Menjadi siap dibangun
Diatas dasar iman diatas dasar iman.

5. Pekerja Kristus Yang Mulia
Telah lama kucari-cari langkah hidup yang lebih pasti
Hidup penuh kemenangan setiap hari
Suatu saat Yesus panggilku menjadi pekerja
Melayani jadi saksi bagi Dia

Bukan sembarang pekerja ya ya ya
Yesusku luar biasa ya ya ya
Dia Raja sgala raja ya ya ya
Memanggilku menuai ladangNya

Hanya anugrah semata ya ya ya
Aku dipakai olehNya ya ya ya
Sungguh amat istimewa
Menjadi pekerja Kristus yang mulia
6.“Persembahan Kami Pada Hari Ini”
                
Persembahan kami pada hari ini
Kiranya Tuhan t’rimalah          
dengan senang hati     2x


Disini aku bawa Tuhan persembahan
hidupku
        S’moga berkenan berapalah nilainya
Tuhan
        Dibandingkan berkatMu yang t’lah Kau
limpahkan

        T’rimalah Tuhan, oh t’rimalah Tuhan.



Dilaksanakan pada :
Hari, tanggal : Selasa, 25 Maret 2014
Pukul : 14.00 WIB s/d selesai
Tempat : Eks. Lapangan Basket FISIP USU
Tema : "MANUSIA, DOSA DAN KESELAMATAN"
Pembicara : Gunawan Purba (BPC Wakil Sekretaris Kerohanian)

Senin, 24 Maret 2014

cerpenku 2

JANJI
oleh : Indah Simanjuntak

Jessicha alias Soe Mei Lan baru saja tiba di Bandara Polonia. Ini pertama kalinya Icha, panggilan akrabnya menginjakkan kaki di Indonesia. Icha yang selama ini tinggal di Tokyo bersama kedua orang tuanya berlibur ke Indonesia untuk menemui kakek dan neneknya. Icha yang baru saja belajar bahasa Indonesia itu sedikit kewalahan berkomunikasi dengan masyarakat pribumi, Icha pun terpaksa memakai bahasa inggris. “Excuse me?” tanya Icha pada seorang pria yang juga baru saja sampai di bandara. “Ya. Ada apa mbak?” jawabnya lembut. “Do you know this address?” tanya Icha lagi sambil memberikan selembar kertas kecil padanya. Pria itu membacanya lalu dengan spontan dia menjawab, “Ya aku tau. Disini aku dilahirkan. Bagaimana kalo kau ikut denganku aja? Alamat ini dekat sama rumahku, hanya jauh dikitlah”. Pria ini memakai bahasa isyarat karna dia tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Icha yang mengerti apa yang dimaksud sama pria ini akhirnya pun ikut bersamanya.
Selama perjalanan Icha menikmati keindahan alam Indonesia yang begitu asri dan indah. Alam yang diselimuti kehijauan dan udara yang begitu segar. 4 jam perjalanan tanpa terasa Icha sudah sampai ditujuan. Kota kecil yang jauh dari kemacetan dan tindak kriminal. Belum ada mall. Masih jauh dari kemajuan. Inilah Kota Perdagangan yang terletak di Kabupaten Simalungun.
Mereka naik becak untuk masuk ke desa ini karna angkot yang mereka naiki berhenti di loket. Pengalaman pertama Icha naik becak. Memasuki jalan yang sudah di aspal, sebelah kanan ada rumah warga dan sebelah kirinya masih ada lahan kosong yang dipenuhi dengan pepohonan.
“Nah, ini rumah yang kau cari mbak” kata pria itu pada Icha. Icha melihat sekitar rumah itu. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Icha takut ditipu sama pria ini. Pria ini juga merasa kalau Icha takut padanya. Akhirnya pria ini turun dari becak dan memanggil si pemilik rumah. “Wak Acong! Wak A....cong!” teriak pria ini dengan sedikit nada bernyanyi. Icha tersenyum melihatnya. “Hayya. Kenapa kau teriak-teriak?” kata seorang pria tua dengan logat Cina saat keluar dari rumahnya. Icha kaget saat melihat pria tua itu. Ternyata dia kakeknya. Karna saking kangennya sudah lama tidak bertemu, Icha langsung turun dari becak dan berlari menghampiri pria tua itu dan memeluknya. “Kakek” teriak Icha sedikit fasih mengucapkannya. Pria tua itu bingung. Kemudian istrinya keluar rumah dengan langkah tergesa-gesa. “Cong, cucu kita dari Tokyo katanya mau datang kemari” kata wanita tua padanya. Dia heran melihat suaminya dipeluk perempuan lain. Dengan cepat dihampirinya perempuan itu. “Dia siapa Cong?” tanya istrinya lagi. Icha mendengar suara neneknya lalu dilepas pelukannya itu dari kakeknya. “Nenek?” teriak Icha lagi. Wanita tua itu mengenal Icha karna dia sudah melihat foto cucunya ini. “Soe Mei Lan!” teriak wanita tua itu keras dan langsung memeluknya erat. Wak Acong dan pria itu saling bertatapan bingung. Setelah hampir 5 menit berpelukan, akhirnya mereka melepas pelukannya. “Ini Soe Mei Lan. Cucu kita” kata wanita tua itu pada suaminya. “Apa? Ini Mei Mei kecilku?” tanya sang suami padanya. “Mmm” jawab wanita tua itu sambil mengangguk. Wak Acong pun langsung memeluk Icha sambil tertawa senang. “Ternyata kau sudah besar Mei Mei. Kakek rindu kali samamu” gerutu sang kakek. “Aku juga kek” jawab Icha senang.
***
“Mo pigi mana ka?” teriak suara anak laki-laki Papua pada seorang temannya.
“Beta mo kesana. Kamong?” jawab anak laki-laki berkulit hitam dan berambut keriting itu.
“Tu son jo ho. Marmeam satur hita di son. Beta!” sambung anak laki-laki berlogat batak.
“Asso. Beta mo pi jemput usy” jawabnya lagi.
“EPENKAH!” teriak mereka pada anak laki-laki Ambon itu. Mereka menertawainya. EPENKAH itu singkatan dari bahasa gaulnya masyarakat Papua yang artinya Emang Pentingkah. Karna kesalnya dia pun menjawab, “Itu Lagi!”. Kadang kalimat “Itu Lagi” digunakannya jika dia bercerita dan malas mengomentari.
Icha senang melihat anak-anak itu bermain sambil tertawa. Sudah beberapa hari Icha di rumah kakeknya, tapi Icha belum dapat teman disana. Sang nenek melihatnya mengintip dari jendela rumah lalu menghampirinya. “Hayya. Jangan cuma disini aja. Mainlah keluar gabung sama anak-anak. Nanti kamu bosan disini terus” celoteh nenek menghiburnya. Icha senang nenek mengijinkannya main bersama anak-anak itu. Icha pun berlari keluar rumah dan menghampiri anak-anak itu yang tengah asyik bermain catur dibawah pohon seri. “Hai” sapa Icha pada mereka. “Ko sapa?” tanya anak laki-laki Papua padanya. “Mmm.... Aku Jessicha or call me Icha. I've just come from Tokyo three days ago. Boleh aku main sama kalian?” jawab Icha dengan bahasa Indo-Inggrisnya. “Kumaha atuh. Salira boleh euy main sama kami” jawab anak perempuan Sunda itu dengan lembut. Icha tersenyum lalu berkata ,” Kalau nama kalian siapa?”. “Namaku Ucok! Sebenarnya nama lengkapku Tahan Sagala, tapi kawan-kawanku ini suka kali manggil aku Ucok” ceplos Ucok dengan khas bataknya yang kental. Icha menahan tawanya mendengar cara Ucok bicara. “Hai Ucok. Nice too meet you” kata Icha sambil menyalam Ucok dan tersenyum padanya. Ucok yang kelihatan bingung apa yang dikatakan Icha tak mau ambil pusing dan menyalam tangan Icha yang mulus itu. “Aku Mesak” sambungnya sambil menyalam Icha. “Saya Mimin. Senang berkenalan sama kamu Icha” jawab Mimin sambil menyalami Icha. Sebenarnya ada satu lagi teman dekat mereka yaitu si Kriwil. Mereka 4 sekawan dengan suku berbeda-beda. Ada batak, papua, sunda dan ambon. Mereka berteman dari kecil hingga sekarang. Meski pun berbeda suku, etnis, agama, ras, dll, tapi mereka tetap solid dan mereka jarang atau hampir bahkan tidak pernah berantem. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Mesak, Kriwil dan Mimin pendatang di Kelurahan Perdagangan III, sedangkan Ucok asli warga setempat. Di desa tempat mereka tinggal mayoritas beragama kristen tapi warga setempat saling menghargai agama atau pun suku lain. Mereka hidup rukun dan akur. Saling membantu warga lain bila mereka mengalami kemalangan atau musibah. Walau pun jauh dari kesan kota metropolitan, tapi mereka bahagia bisa tinggal disini.
Icha senang bermain dengan 4 sekawan ini. Dari pagi sampai malam Icha menghabiskan waktunya bermain bersama mereka. Ucok, dkk, mengajak Icha naik becak mandi-mandi ke Sungai Lobang atau yang lebih dikenal dengan sebutan sunglo di Kerasaan. Jaraknya setengah jam dari Perdagangan. Mereka naik becak milik pamannya Kriwil yang dibawa langsung sama Kriwil sendiri. Becak yang biasanya maksimal untuk 2 penumpang itu melebihi kapasitas. Icha dan Mimin duduk dibangku, sedangkan Ucok duduk dibelakang Kriwil dan Mesak duduk pas di pintu masuk becak. Mereka tidak takut ditilang polisi pada hal di simpang sunglo itu ada pos polisi. Setibanya di sunglo, Mesak, Ucok, Mimin dan Kriwil langsung lompat ke dalam sungai dan berenang bersama teman-teman mereka yang lain. Icha tidak berenang, dia bingung melihat temannya berenang pakai baju kaos dan celana pada hal yang Icha tahu biasanya berenang itu pakai baju renang di kolam renang dan bukan di sungai. Icha cuma bisa melihati temannya berenang dari pinggir sungai. Icha belum pernah mandi di sungai selama hidupnya karna yang dia tahu sungai itu kotor dan banyak bakteri. Mimin memaksa Icha ikut mandi, tapi akhirnya Icha mau karna Icha pikir kapan lagi dia bisa berenang di sungai bersama dengan teman-temannya. Saking senangnya Icha berlari dan terjun ke dalam sungai sambil berteriak senang. Ucok, Mesak, Kriwil dan Mimin heran melihat Icha.
Icha bosan di rumah menunggu 4 sekawan itu pulang sekolah. Takut Icha merasa bosan di rumah, Wak Acong mengajaknya pergi ke ladang. Disana banyak kelapa sawit dan daun singkong. Icha membantu kakeknya menanam sayuran di ladang sambil menunggu 4 sekawan itu pulang.
“Kamorang su balek” kata kakak Kriwil pada 4 sekawan ini .
“Su usy” jawab Mimin dengan bahasa ambon.
Seperti biasa, setelah pulang 4 sekawan ini mengerjakan tugas sekolah bersama karna mereka 1 satu kelas. 4 sekawan ini terkenal di sekolah mereka paling kocak, gokil, kompak, baik dan setia berteman. 4 sekawan ini juga dikenal pintar dan juara kelas. Saat mengerjakan tugas, mereka sering bercanda tapi terkadang mereka serius. Setelah 2 jam ngerjakan tugas, mereka pun bermain. “Main apa kita?” tanya Ucok. Mereka berpikir mencari ide buat main. Dari kejauhan Mesak melihat Icha sedang membantu kakeknya menanam sayuran di ladang. “Itu Icha!” teriak Mesak hingga membuat ketiga temannya itu terkejut. Tookkkkk. Ketiga temannya menjitak kepala Mesak serentak. “Salira bikin kaget aja” kata Mimin kesal. “Aduh, sakit tau! Maksud sa kitong bantu Icha nanam sayuran di ladang Wak Acong” kata Mesak sambil mengelus-elus kepalanya. “Ohhh” jawab mereka serentak. 4 sekawan ini pun menghampiri Icha dan Wak Acong yang tengah asyik menanam sayur di ladang. Icha senang melihat 4 sekawan ini datang. Mereka menanam sayur sambil bermain di ladang Wak Acong.
Jam 3 sore 4 sekawan dan Icha tidur-tiduran di bawah pohon seri. “Kitong maen apa ka?” kata Mesak dengan nada lemas. “Main kastilah yok, udah lama nggak main kita. Acem?” sahut Ucok. “Good idea. Kita main kasti yuk” sambung Icha semangat. Ucok pun mengambil bola kasti dan tongkatnya. Mereka bermain di samping gereja HKBP. Karna jumlah mereka ganjil, Kriwil mengajak Naomi, kakaknya bermain dengan mereka. Icha, Mesak dan Kriwil satu tim, sedangkan Mimin, Ucok dan Naomi satu tim. Untuk menentukan tim yang bermain pertama, dilakukan undian yang biasa disebut  suten. Suten dilakukan oleh kedua ketua tim. Tim yang kalah dalam suten, bertugas menjaga camp dan bola kasti dipukul oleh tim yang menang. Saat suten tim Mesak kalah, jadi Tim Ucoklah yang bermain lebih dulu. Permainan bola kastinya berlangsung seru dan meriah karna banyak warga yang menonton mereka. Mereka terhibur menontonnya karna ada adegan-adegan lucu yang mengundang tawa. Bahkan orang tua mereka masing-masing pun turut serta jadi penonton. Ucok berlari menyelamatkan diri tapi Icha berhasil melempar bola kasti mengenai kakinya. Adegan lucu lainnya Icha tidak bisa memukul bola kasti sebanyak 3 kali hingga membuat timnya kalah. Dan akhirnya tim Ucok, dkk, yang memenangkan permainan bola kasti.
Hari sabtu sekolah libur. Hari ini dimanfaat 4 sekawan dan Icha bermain lagi. “Semalam seru pisan euy mainnya” kata Mimin senang. “Yeah, you are the winner” sahut Icha senyum. Pagi itu cuaca cerah sekali. Mereka tengah asyik membahas permainan bola kasti semalam sambil malas-malasan dibawah pohon seri tempat mereka selalu nongkrong tiap hari. “Mmm... main balap karung yuk?” ajak Mesak tiba-tiba. Kebiasaan Mesak memang mengagetkan teman-temannya hingga dia selalu dapat bintang di kepalanya. Tokkkk. Tokkkk. Tokkkk. Tokkk. Satu per satu mereka menjitak kepala Mesak saking kesalnya. Mesak dapat 4 jitakan di kepalanya.
 “Auuhh!”.
Hari sudah siang, mereka pun bermain balap karung. Karna halaman samping gereja HKBP cukup luas, mereka bermain disitu karna kalau ke stadion jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Kriwil minta bantuan kakaknya lagi buat jadi wasit balap karungnya. 5 goni dan peluit sudah disiapkan. 4 sekawan ini sering bermain, jadi alat perlengkapan main mereka selalu tersedia. Mereka 5 berdiri dibelakang mistar. Jarak yang mereka tempuh 7 meter  ke sebrang. “Satu, dua, tiga! Prriitttt!” tiupan peluit wasit yang menandai permainan balap karung di mulai. Mesak, Ucok, Icha, Kriwil dan Mimin berlari dalam karung berlomba untuk sampai disebrang garis. Warga yang saat itu tengah lewat melihat mereka bermain, warga pun jadi ikutan nonton karna balap karung ini permainan yang mengasyikkan dan mengundang tawa juga. Ucok jatuh karna dia menginjak goninya sendiri, sedangkan Mesak dan Mimin saling bertabrakan hingga membuat mereka jatuh. Semua warga tertawa melihatnya. Semakin sore semakin meriah dan semakin banyak warga yang menonton mereka bermain balap karung. Yang jadi pemenangnya adalah Icha dan Kriwil.
Malamnya mereka karaoke bersama diiringi gitar, rebab dan tifa. Mereka mengkolaborasikan alat musik daerahnya masing-masing. Mereka juga menyanyikan lagu daerahnya masing-masing. Lagu apuse, o tano batak, butet, rasa sayange, sio tantina, bubuy bulan,  dll.
Selama mengisi liburannya di Perdagangan, banyak hal baru yang ditemukan Icha. Saat pesta pernikahan kakaknya si Ucok, mereka menari tor-tor dan sigale-gale bersama diiringi gonrang dicampur  alat musik modern. Bahkan mereka menari tarian budayanya masing-masing seperti jaipong, cakalele, perang dan perisai. Mereka juga makan saksang daging babi. Mimin yang beragama muslim tidak bisa makan saksang, jadi Mimin makan punya parsubang (makanan khusus untuk yang tidak boleh makan daging babi).
Icha menikmati masa liburannya. Selain mendapat banyak hal yang berharga dari keragaman Indonesia, Icha juga mendapat 4 teman sekaligus. Namun malam itu Icha sedih mengingat semua kenangannya bersama 4 sekawan. Lusa Icha sudah harus balik lagi ke Tokyo karna masa liburmya sudah habis. Tanpa disadari sesuatu jatuh dari pelupuk matanya. Begitu singkat waktu yang dirasakannya bersama 4 sekawan ini. Wak Acong melihat cucu kesayangannya itu kelihatan sedih karna harus pulang lusa ke Tokyo. Dihampiri cucunya yang sedang duduk di depan teras rumah pada hal jam sudah menunjukkan  pukul 23.38 malam. Icha menatapi bintang dan galaksi lainnya di langit hitam. Wak Acong  menemani cucunya sambil bercerita tentang kedua orang tuanya disana.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Mimin mengajak Icha bermain congklak. Sambil berteduh dibawah pohon seri mereka bermain congklak karna saat itu harinya panas sekali. Mimin mengajari Icha bermain congklak, sedangkan Mesak, Ucok dan Kriwil tengah asyik memanjat pohon seri dan bernyanyi diatas pohon sambil memakani buah seri yang kecil dan manis itu. Muka Icha kelihatan kusam hari itu. Mimin merasa ada yang beda dari Icha. “Kamu kenapa Icha. Muka kamu kelihatan pucat” kata Mimin sambil memegang wajah Icha. Icha cuma tersenyum. Icha kembali melanjutkan bermain congklak. “I must come back to Tokyo tomorrow” ucap Icha sedih. Icha menundukkan kepalanya. Mimin kaget mendengarnya dan Mimin jadi ikutan sedih. Mimin teriak pada ketiga temannya yang sedang asyik di atas pohon seri, “Hei! Besok Icha mau balik ke Tokyo!”. Mesak, Ucok dan Kriwil terdiam. Di atas pohon mereka saling bertatapan. Sekejab kesenangan itu sirna saat tahu besok Icha harus kembali pulang ke Tokyo. Mereka merasa kehilangan. Mereka bertiga turun dari pohon dan duduk bersama Mimin dan Icha. “Beneran Cha besok kau mau pulang?” tanya Ucok penasaran. Icha tidak menjawab, dia cuma geleng-geleng kepala. Mimin memeluk Icha erat dan menangis sejadinya. Baru 2 minggu mereka mengenal Icha tapi mereka sudah sangat menyayangi Icha. Mesak, Ucok dan Kriwil pun ikut memeluk Icha. Kakek dan nenek Icha dari rumah melihat mereka berlima berpelukan dan mereka kelihatan sedih sekali.
Jam 8 Icha harus berangkat ke Medan. Icha sedih teman-temannya tidak bisa mengantar kepergiannya ke bandara karna mereka sekolah. Selama  di perjalanan Icha diam dan tidak mengobrol pada kakek-neneknya. Bahkan Icha menangis dan memeluk neneknya. Wak Acong pun jadi sedih melihat cucunya menangis. Akhirnya mereka pun sampai di Bandara Polonia. Icha berharap 4 sekawan itu datang melihat kepergiannya, namun hari itu dia tidak melihat kemunculan mereka. Hatinya jadi semakin sedih. Matanya bengkak dan merah. Jadwal keberangkatan pesawatnya jam 2 siang. Icha makan siang bersama kakek dan neneknya didekat sekitar bandara. Setelah itu mereka masuk ke dalam bandara mengantar Icha. Langkah Icha lunglai dan Icha selalu melihat ke belakang berharap 4 sekawan itu muncul tiba-tiba. “Soe Mei Lan!”. Langkah Icha dan kakek-neneknya terhenti. Ada yang memanggil nama Cinanya. Icha menoleh ke belakang. Senyum Icha kembali hadir saat tahu kalau yang memanggil namanya adalah 4 sekawan. Mereka melambaikan tangan pada Icha dan Icha membalas melambaikan tangan sambil tertawa. 4 sekawan berlari menghampirinya. “Wow! You are so beautiful” kata Ucok memuji Icha dengan logat bataknya. Mereka tertawa mendengarnya. “Katong pung hadiah buat ale”  kata Kriwil dengan bahasa ambonnya. “What’s that?” tanya Icha penasaran. “Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi Icha” sambung Mimin. “I hope we can gather again dan play together” sahut Icha. Ucok memakaikan ulos di tubuhnya Icha. “Inilah cinderamata dariku. Aku harap kita bisa berjumpa lagi. Sayang aku samamu Icha” kata Ucok sedih lalu memeluknya. Mesak memberi tifa kesayangannya buat Icha. “Tifa ini barang kesayanganku. Jaga ya sampai kita bertemu lagi” kata Mesak sambil memeluk Icha. Mesak menyukai Icha karna Icha cantik dan baik, tapi Icha tidak mengetahui hal ini, cuma 4 sekawan yang tahu. Cukup lama Mesak memeluk Icha hingga membuat Kriwil menariknya. “Cari-cari kesempatan ale yo” katanya pada Mesak. Mereka tertawa. Mimin memberikan cinderamata T-shirt yang bergambar Villa Isola dari Bandung dan Mimin memeluk Icha. Kriwil memberi bingkai berisi foto mereka berlima saat bermain balap karung. Icha semakin sedih saat melihat foto itu lalu memeluk 4 sekawan dengan erat. Saat itu haru sekali, semua orang melihati mereka. Icha tidak memberikan apa-apa tapi Icha berjanji akan kembali lagi pada mereka. “I promise I’ll be back for you”. Akhirnya waktunya pun tiba, Icha harus masuk ke dalam bandara karna sebentar lagi pesawatnya akan terbang transit ke Jakarta. Sebelum pergi, Icha memeluk kakek dan neneknya. Icha menyuruh Mimin memotonya bersama kakek dan neneknya. Setelah berfoto, Icha pun masuk ke dalam. Air mata tidak bisa terbendung lagi. Mereka semua menangis, Icha pun begitu. Mereka melihat keberangkatan pesawat Icha, setelah melihatnya mereka pun kembali pulang ke Perdagangan.

= bersambung =