Senin, 24 Maret 2014

cerpenku 2

JANJI
oleh : Indah Simanjuntak

Jessicha alias Soe Mei Lan baru saja tiba di Bandara Polonia. Ini pertama kalinya Icha, panggilan akrabnya menginjakkan kaki di Indonesia. Icha yang selama ini tinggal di Tokyo bersama kedua orang tuanya berlibur ke Indonesia untuk menemui kakek dan neneknya. Icha yang baru saja belajar bahasa Indonesia itu sedikit kewalahan berkomunikasi dengan masyarakat pribumi, Icha pun terpaksa memakai bahasa inggris. “Excuse me?” tanya Icha pada seorang pria yang juga baru saja sampai di bandara. “Ya. Ada apa mbak?” jawabnya lembut. “Do you know this address?” tanya Icha lagi sambil memberikan selembar kertas kecil padanya. Pria itu membacanya lalu dengan spontan dia menjawab, “Ya aku tau. Disini aku dilahirkan. Bagaimana kalo kau ikut denganku aja? Alamat ini dekat sama rumahku, hanya jauh dikitlah”. Pria ini memakai bahasa isyarat karna dia tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Icha yang mengerti apa yang dimaksud sama pria ini akhirnya pun ikut bersamanya.
Selama perjalanan Icha menikmati keindahan alam Indonesia yang begitu asri dan indah. Alam yang diselimuti kehijauan dan udara yang begitu segar. 4 jam perjalanan tanpa terasa Icha sudah sampai ditujuan. Kota kecil yang jauh dari kemacetan dan tindak kriminal. Belum ada mall. Masih jauh dari kemajuan. Inilah Kota Perdagangan yang terletak di Kabupaten Simalungun.
Mereka naik becak untuk masuk ke desa ini karna angkot yang mereka naiki berhenti di loket. Pengalaman pertama Icha naik becak. Memasuki jalan yang sudah di aspal, sebelah kanan ada rumah warga dan sebelah kirinya masih ada lahan kosong yang dipenuhi dengan pepohonan.
“Nah, ini rumah yang kau cari mbak” kata pria itu pada Icha. Icha melihat sekitar rumah itu. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Icha takut ditipu sama pria ini. Pria ini juga merasa kalau Icha takut padanya. Akhirnya pria ini turun dari becak dan memanggil si pemilik rumah. “Wak Acong! Wak A....cong!” teriak pria ini dengan sedikit nada bernyanyi. Icha tersenyum melihatnya. “Hayya. Kenapa kau teriak-teriak?” kata seorang pria tua dengan logat Cina saat keluar dari rumahnya. Icha kaget saat melihat pria tua itu. Ternyata dia kakeknya. Karna saking kangennya sudah lama tidak bertemu, Icha langsung turun dari becak dan berlari menghampiri pria tua itu dan memeluknya. “Kakek” teriak Icha sedikit fasih mengucapkannya. Pria tua itu bingung. Kemudian istrinya keluar rumah dengan langkah tergesa-gesa. “Cong, cucu kita dari Tokyo katanya mau datang kemari” kata wanita tua padanya. Dia heran melihat suaminya dipeluk perempuan lain. Dengan cepat dihampirinya perempuan itu. “Dia siapa Cong?” tanya istrinya lagi. Icha mendengar suara neneknya lalu dilepas pelukannya itu dari kakeknya. “Nenek?” teriak Icha lagi. Wanita tua itu mengenal Icha karna dia sudah melihat foto cucunya ini. “Soe Mei Lan!” teriak wanita tua itu keras dan langsung memeluknya erat. Wak Acong dan pria itu saling bertatapan bingung. Setelah hampir 5 menit berpelukan, akhirnya mereka melepas pelukannya. “Ini Soe Mei Lan. Cucu kita” kata wanita tua itu pada suaminya. “Apa? Ini Mei Mei kecilku?” tanya sang suami padanya. “Mmm” jawab wanita tua itu sambil mengangguk. Wak Acong pun langsung memeluk Icha sambil tertawa senang. “Ternyata kau sudah besar Mei Mei. Kakek rindu kali samamu” gerutu sang kakek. “Aku juga kek” jawab Icha senang.
***
“Mo pigi mana ka?” teriak suara anak laki-laki Papua pada seorang temannya.
“Beta mo kesana. Kamong?” jawab anak laki-laki berkulit hitam dan berambut keriting itu.
“Tu son jo ho. Marmeam satur hita di son. Beta!” sambung anak laki-laki berlogat batak.
“Asso. Beta mo pi jemput usy” jawabnya lagi.
“EPENKAH!” teriak mereka pada anak laki-laki Ambon itu. Mereka menertawainya. EPENKAH itu singkatan dari bahasa gaulnya masyarakat Papua yang artinya Emang Pentingkah. Karna kesalnya dia pun menjawab, “Itu Lagi!”. Kadang kalimat “Itu Lagi” digunakannya jika dia bercerita dan malas mengomentari.
Icha senang melihat anak-anak itu bermain sambil tertawa. Sudah beberapa hari Icha di rumah kakeknya, tapi Icha belum dapat teman disana. Sang nenek melihatnya mengintip dari jendela rumah lalu menghampirinya. “Hayya. Jangan cuma disini aja. Mainlah keluar gabung sama anak-anak. Nanti kamu bosan disini terus” celoteh nenek menghiburnya. Icha senang nenek mengijinkannya main bersama anak-anak itu. Icha pun berlari keluar rumah dan menghampiri anak-anak itu yang tengah asyik bermain catur dibawah pohon seri. “Hai” sapa Icha pada mereka. “Ko sapa?” tanya anak laki-laki Papua padanya. “Mmm.... Aku Jessicha or call me Icha. I've just come from Tokyo three days ago. Boleh aku main sama kalian?” jawab Icha dengan bahasa Indo-Inggrisnya. “Kumaha atuh. Salira boleh euy main sama kami” jawab anak perempuan Sunda itu dengan lembut. Icha tersenyum lalu berkata ,” Kalau nama kalian siapa?”. “Namaku Ucok! Sebenarnya nama lengkapku Tahan Sagala, tapi kawan-kawanku ini suka kali manggil aku Ucok” ceplos Ucok dengan khas bataknya yang kental. Icha menahan tawanya mendengar cara Ucok bicara. “Hai Ucok. Nice too meet you” kata Icha sambil menyalam Ucok dan tersenyum padanya. Ucok yang kelihatan bingung apa yang dikatakan Icha tak mau ambil pusing dan menyalam tangan Icha yang mulus itu. “Aku Mesak” sambungnya sambil menyalam Icha. “Saya Mimin. Senang berkenalan sama kamu Icha” jawab Mimin sambil menyalami Icha. Sebenarnya ada satu lagi teman dekat mereka yaitu si Kriwil. Mereka 4 sekawan dengan suku berbeda-beda. Ada batak, papua, sunda dan ambon. Mereka berteman dari kecil hingga sekarang. Meski pun berbeda suku, etnis, agama, ras, dll, tapi mereka tetap solid dan mereka jarang atau hampir bahkan tidak pernah berantem. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Mesak, Kriwil dan Mimin pendatang di Kelurahan Perdagangan III, sedangkan Ucok asli warga setempat. Di desa tempat mereka tinggal mayoritas beragama kristen tapi warga setempat saling menghargai agama atau pun suku lain. Mereka hidup rukun dan akur. Saling membantu warga lain bila mereka mengalami kemalangan atau musibah. Walau pun jauh dari kesan kota metropolitan, tapi mereka bahagia bisa tinggal disini.
Icha senang bermain dengan 4 sekawan ini. Dari pagi sampai malam Icha menghabiskan waktunya bermain bersama mereka. Ucok, dkk, mengajak Icha naik becak mandi-mandi ke Sungai Lobang atau yang lebih dikenal dengan sebutan sunglo di Kerasaan. Jaraknya setengah jam dari Perdagangan. Mereka naik becak milik pamannya Kriwil yang dibawa langsung sama Kriwil sendiri. Becak yang biasanya maksimal untuk 2 penumpang itu melebihi kapasitas. Icha dan Mimin duduk dibangku, sedangkan Ucok duduk dibelakang Kriwil dan Mesak duduk pas di pintu masuk becak. Mereka tidak takut ditilang polisi pada hal di simpang sunglo itu ada pos polisi. Setibanya di sunglo, Mesak, Ucok, Mimin dan Kriwil langsung lompat ke dalam sungai dan berenang bersama teman-teman mereka yang lain. Icha tidak berenang, dia bingung melihat temannya berenang pakai baju kaos dan celana pada hal yang Icha tahu biasanya berenang itu pakai baju renang di kolam renang dan bukan di sungai. Icha cuma bisa melihati temannya berenang dari pinggir sungai. Icha belum pernah mandi di sungai selama hidupnya karna yang dia tahu sungai itu kotor dan banyak bakteri. Mimin memaksa Icha ikut mandi, tapi akhirnya Icha mau karna Icha pikir kapan lagi dia bisa berenang di sungai bersama dengan teman-temannya. Saking senangnya Icha berlari dan terjun ke dalam sungai sambil berteriak senang. Ucok, Mesak, Kriwil dan Mimin heran melihat Icha.
Icha bosan di rumah menunggu 4 sekawan itu pulang sekolah. Takut Icha merasa bosan di rumah, Wak Acong mengajaknya pergi ke ladang. Disana banyak kelapa sawit dan daun singkong. Icha membantu kakeknya menanam sayuran di ladang sambil menunggu 4 sekawan itu pulang.
“Kamorang su balek” kata kakak Kriwil pada 4 sekawan ini .
“Su usy” jawab Mimin dengan bahasa ambon.
Seperti biasa, setelah pulang 4 sekawan ini mengerjakan tugas sekolah bersama karna mereka 1 satu kelas. 4 sekawan ini terkenal di sekolah mereka paling kocak, gokil, kompak, baik dan setia berteman. 4 sekawan ini juga dikenal pintar dan juara kelas. Saat mengerjakan tugas, mereka sering bercanda tapi terkadang mereka serius. Setelah 2 jam ngerjakan tugas, mereka pun bermain. “Main apa kita?” tanya Ucok. Mereka berpikir mencari ide buat main. Dari kejauhan Mesak melihat Icha sedang membantu kakeknya menanam sayuran di ladang. “Itu Icha!” teriak Mesak hingga membuat ketiga temannya itu terkejut. Tookkkkk. Ketiga temannya menjitak kepala Mesak serentak. “Salira bikin kaget aja” kata Mimin kesal. “Aduh, sakit tau! Maksud sa kitong bantu Icha nanam sayuran di ladang Wak Acong” kata Mesak sambil mengelus-elus kepalanya. “Ohhh” jawab mereka serentak. 4 sekawan ini pun menghampiri Icha dan Wak Acong yang tengah asyik menanam sayur di ladang. Icha senang melihat 4 sekawan ini datang. Mereka menanam sayur sambil bermain di ladang Wak Acong.
Jam 3 sore 4 sekawan dan Icha tidur-tiduran di bawah pohon seri. “Kitong maen apa ka?” kata Mesak dengan nada lemas. “Main kastilah yok, udah lama nggak main kita. Acem?” sahut Ucok. “Good idea. Kita main kasti yuk” sambung Icha semangat. Ucok pun mengambil bola kasti dan tongkatnya. Mereka bermain di samping gereja HKBP. Karna jumlah mereka ganjil, Kriwil mengajak Naomi, kakaknya bermain dengan mereka. Icha, Mesak dan Kriwil satu tim, sedangkan Mimin, Ucok dan Naomi satu tim. Untuk menentukan tim yang bermain pertama, dilakukan undian yang biasa disebut  suten. Suten dilakukan oleh kedua ketua tim. Tim yang kalah dalam suten, bertugas menjaga camp dan bola kasti dipukul oleh tim yang menang. Saat suten tim Mesak kalah, jadi Tim Ucoklah yang bermain lebih dulu. Permainan bola kastinya berlangsung seru dan meriah karna banyak warga yang menonton mereka. Mereka terhibur menontonnya karna ada adegan-adegan lucu yang mengundang tawa. Bahkan orang tua mereka masing-masing pun turut serta jadi penonton. Ucok berlari menyelamatkan diri tapi Icha berhasil melempar bola kasti mengenai kakinya. Adegan lucu lainnya Icha tidak bisa memukul bola kasti sebanyak 3 kali hingga membuat timnya kalah. Dan akhirnya tim Ucok, dkk, yang memenangkan permainan bola kasti.
Hari sabtu sekolah libur. Hari ini dimanfaat 4 sekawan dan Icha bermain lagi. “Semalam seru pisan euy mainnya” kata Mimin senang. “Yeah, you are the winner” sahut Icha senyum. Pagi itu cuaca cerah sekali. Mereka tengah asyik membahas permainan bola kasti semalam sambil malas-malasan dibawah pohon seri tempat mereka selalu nongkrong tiap hari. “Mmm... main balap karung yuk?” ajak Mesak tiba-tiba. Kebiasaan Mesak memang mengagetkan teman-temannya hingga dia selalu dapat bintang di kepalanya. Tokkkk. Tokkkk. Tokkkk. Tokkk. Satu per satu mereka menjitak kepala Mesak saking kesalnya. Mesak dapat 4 jitakan di kepalanya.
 “Auuhh!”.
Hari sudah siang, mereka pun bermain balap karung. Karna halaman samping gereja HKBP cukup luas, mereka bermain disitu karna kalau ke stadion jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Kriwil minta bantuan kakaknya lagi buat jadi wasit balap karungnya. 5 goni dan peluit sudah disiapkan. 4 sekawan ini sering bermain, jadi alat perlengkapan main mereka selalu tersedia. Mereka 5 berdiri dibelakang mistar. Jarak yang mereka tempuh 7 meter  ke sebrang. “Satu, dua, tiga! Prriitttt!” tiupan peluit wasit yang menandai permainan balap karung di mulai. Mesak, Ucok, Icha, Kriwil dan Mimin berlari dalam karung berlomba untuk sampai disebrang garis. Warga yang saat itu tengah lewat melihat mereka bermain, warga pun jadi ikutan nonton karna balap karung ini permainan yang mengasyikkan dan mengundang tawa juga. Ucok jatuh karna dia menginjak goninya sendiri, sedangkan Mesak dan Mimin saling bertabrakan hingga membuat mereka jatuh. Semua warga tertawa melihatnya. Semakin sore semakin meriah dan semakin banyak warga yang menonton mereka bermain balap karung. Yang jadi pemenangnya adalah Icha dan Kriwil.
Malamnya mereka karaoke bersama diiringi gitar, rebab dan tifa. Mereka mengkolaborasikan alat musik daerahnya masing-masing. Mereka juga menyanyikan lagu daerahnya masing-masing. Lagu apuse, o tano batak, butet, rasa sayange, sio tantina, bubuy bulan,  dll.
Selama mengisi liburannya di Perdagangan, banyak hal baru yang ditemukan Icha. Saat pesta pernikahan kakaknya si Ucok, mereka menari tor-tor dan sigale-gale bersama diiringi gonrang dicampur  alat musik modern. Bahkan mereka menari tarian budayanya masing-masing seperti jaipong, cakalele, perang dan perisai. Mereka juga makan saksang daging babi. Mimin yang beragama muslim tidak bisa makan saksang, jadi Mimin makan punya parsubang (makanan khusus untuk yang tidak boleh makan daging babi).
Icha menikmati masa liburannya. Selain mendapat banyak hal yang berharga dari keragaman Indonesia, Icha juga mendapat 4 teman sekaligus. Namun malam itu Icha sedih mengingat semua kenangannya bersama 4 sekawan. Lusa Icha sudah harus balik lagi ke Tokyo karna masa liburmya sudah habis. Tanpa disadari sesuatu jatuh dari pelupuk matanya. Begitu singkat waktu yang dirasakannya bersama 4 sekawan ini. Wak Acong melihat cucu kesayangannya itu kelihatan sedih karna harus pulang lusa ke Tokyo. Dihampiri cucunya yang sedang duduk di depan teras rumah pada hal jam sudah menunjukkan  pukul 23.38 malam. Icha menatapi bintang dan galaksi lainnya di langit hitam. Wak Acong  menemani cucunya sambil bercerita tentang kedua orang tuanya disana.
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Mimin mengajak Icha bermain congklak. Sambil berteduh dibawah pohon seri mereka bermain congklak karna saat itu harinya panas sekali. Mimin mengajari Icha bermain congklak, sedangkan Mesak, Ucok dan Kriwil tengah asyik memanjat pohon seri dan bernyanyi diatas pohon sambil memakani buah seri yang kecil dan manis itu. Muka Icha kelihatan kusam hari itu. Mimin merasa ada yang beda dari Icha. “Kamu kenapa Icha. Muka kamu kelihatan pucat” kata Mimin sambil memegang wajah Icha. Icha cuma tersenyum. Icha kembali melanjutkan bermain congklak. “I must come back to Tokyo tomorrow” ucap Icha sedih. Icha menundukkan kepalanya. Mimin kaget mendengarnya dan Mimin jadi ikutan sedih. Mimin teriak pada ketiga temannya yang sedang asyik di atas pohon seri, “Hei! Besok Icha mau balik ke Tokyo!”. Mesak, Ucok dan Kriwil terdiam. Di atas pohon mereka saling bertatapan. Sekejab kesenangan itu sirna saat tahu besok Icha harus kembali pulang ke Tokyo. Mereka merasa kehilangan. Mereka bertiga turun dari pohon dan duduk bersama Mimin dan Icha. “Beneran Cha besok kau mau pulang?” tanya Ucok penasaran. Icha tidak menjawab, dia cuma geleng-geleng kepala. Mimin memeluk Icha erat dan menangis sejadinya. Baru 2 minggu mereka mengenal Icha tapi mereka sudah sangat menyayangi Icha. Mesak, Ucok dan Kriwil pun ikut memeluk Icha. Kakek dan nenek Icha dari rumah melihat mereka berlima berpelukan dan mereka kelihatan sedih sekali.
Jam 8 Icha harus berangkat ke Medan. Icha sedih teman-temannya tidak bisa mengantar kepergiannya ke bandara karna mereka sekolah. Selama  di perjalanan Icha diam dan tidak mengobrol pada kakek-neneknya. Bahkan Icha menangis dan memeluk neneknya. Wak Acong pun jadi sedih melihat cucunya menangis. Akhirnya mereka pun sampai di Bandara Polonia. Icha berharap 4 sekawan itu datang melihat kepergiannya, namun hari itu dia tidak melihat kemunculan mereka. Hatinya jadi semakin sedih. Matanya bengkak dan merah. Jadwal keberangkatan pesawatnya jam 2 siang. Icha makan siang bersama kakek dan neneknya didekat sekitar bandara. Setelah itu mereka masuk ke dalam bandara mengantar Icha. Langkah Icha lunglai dan Icha selalu melihat ke belakang berharap 4 sekawan itu muncul tiba-tiba. “Soe Mei Lan!”. Langkah Icha dan kakek-neneknya terhenti. Ada yang memanggil nama Cinanya. Icha menoleh ke belakang. Senyum Icha kembali hadir saat tahu kalau yang memanggil namanya adalah 4 sekawan. Mereka melambaikan tangan pada Icha dan Icha membalas melambaikan tangan sambil tertawa. 4 sekawan berlari menghampirinya. “Wow! You are so beautiful” kata Ucok memuji Icha dengan logat bataknya. Mereka tertawa mendengarnya. “Katong pung hadiah buat ale”  kata Kriwil dengan bahasa ambonnya. “What’s that?” tanya Icha penasaran. “Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi Icha” sambung Mimin. “I hope we can gather again dan play together” sahut Icha. Ucok memakaikan ulos di tubuhnya Icha. “Inilah cinderamata dariku. Aku harap kita bisa berjumpa lagi. Sayang aku samamu Icha” kata Ucok sedih lalu memeluknya. Mesak memberi tifa kesayangannya buat Icha. “Tifa ini barang kesayanganku. Jaga ya sampai kita bertemu lagi” kata Mesak sambil memeluk Icha. Mesak menyukai Icha karna Icha cantik dan baik, tapi Icha tidak mengetahui hal ini, cuma 4 sekawan yang tahu. Cukup lama Mesak memeluk Icha hingga membuat Kriwil menariknya. “Cari-cari kesempatan ale yo” katanya pada Mesak. Mereka tertawa. Mimin memberikan cinderamata T-shirt yang bergambar Villa Isola dari Bandung dan Mimin memeluk Icha. Kriwil memberi bingkai berisi foto mereka berlima saat bermain balap karung. Icha semakin sedih saat melihat foto itu lalu memeluk 4 sekawan dengan erat. Saat itu haru sekali, semua orang melihati mereka. Icha tidak memberikan apa-apa tapi Icha berjanji akan kembali lagi pada mereka. “I promise I’ll be back for you”. Akhirnya waktunya pun tiba, Icha harus masuk ke dalam bandara karna sebentar lagi pesawatnya akan terbang transit ke Jakarta. Sebelum pergi, Icha memeluk kakek dan neneknya. Icha menyuruh Mimin memotonya bersama kakek dan neneknya. Setelah berfoto, Icha pun masuk ke dalam. Air mata tidak bisa terbendung lagi. Mereka semua menangis, Icha pun begitu. Mereka melihat keberangkatan pesawat Icha, setelah melihatnya mereka pun kembali pulang ke Perdagangan.

= bersambung =